Posts tagged ‘indonesia’

Umat Kristen Ortodoks Peringati 1.700 Tahun Fatwa Toleransi

Umat Kristen Ortodoks Peringati 1.700 Tahun Fatwa Toleransi

NIS, SERBIA — Delapan pemimpin kelompok Kristen Ortodoks, petinggi-petinggi agama lain, politisi dan ribuan lainnya berkumpul di kota Nis, Serbia, Minggu (6/10), untuk memperingati Fatwa Milan mengenai toleransi untuk kelompok Kristen di Kekaisaran Romawi pada 1.700 tahun yang lalu.

Baca selengkapnya

Advertisements

October 19, 2013 at 4:55 pm Leave a comment

Warga Indonesia Rayakan Natal di Inggris

Warga negara Indonesia yang beragama Nasrani yang tergabung dalam Persekutuan Kristen Indonesia (Perki) di Inggris merayakan Natal bertempat di Aula Gereja St. Luke’s Church yang biasa dipergunakan beribadah umat Kristen Anglikan di Kensington, Inggris, Sabtu.

“Tahun ini merupakan kali kedua perayaan tersebut diadakan di St. Luke’s Church, gereja yang memiliki arsitektur yang megah dan kaya ornament,” kata salah seorang diplomat angkatan 35 Kemlu, Allesandro Bernama yang sedang magang di KBRI London, Minggu (12/12/2010).

Hadir pada perayaan Natal bersama masyarakat Indonesia yang sebagian rela menempuh perjalanan panjang dari Newcastle, utara Inggris demi turut berpartisipasi dalam perayaan syukur umat Kristiani tersebut bersama Dubes Indonesia untuk Kerajaan Inggris Raya dan Republik Irlandia, Yuri O Thamrin beserta Ny Sandra Thamrin.

Dubes Yuri Thamrin menyampaikan sambutan singkat berisi pesan agar warga Perki mampu belajar dari teladan Nabi Isa untuk mengasihi sesama manusia seperti halnya mengasihi diri sendiri.

“Dubes juga menekankan pentingnya sikap toleransi antarumat beragama. Melalui kebersamaan, segala beban perantau selama di Inggris akan terasa ringan,” ujarnya.

Setiap tahun selama lebih dari dua dekade terakhir KBRI London bersama umat Kristiani di Inggris dari berbagai kalangan, baik masyarakat, pelajar maupun tamu dari Indonesia, secara rutin menggelar perayaan Natal.

Tujuan utamanya untuk turut menjaga silaturahmi warga negara Indonesia di Inggris sekaligus memanfaatkan momen tersebut untuk bertemu dan mengenal lebih dekat masyarakat Indonesia yang baru tiba di Inggris.

Mengambil tema Tuhan Itu Baik kepada Semua Orang, khotbah dari Pendeta Frans Sahetapy STh mengingatkan sekitar 150 undangan pentingnya perayaan Natal tahun ini dilaksanakan dalam semangat saling mengasihi dan membantu sesama di antara umat Kristiani di Inggris yang terbilang jauh dari tanah air.

Kegiatan ibadah kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan siang bersama dan pertunjukan Natal yang semarak selama kurang lebih lima jam berhasil memuaskan kerinduan masyarakat Indonesia di Inggris untuk beribadah serta mencicipi lezatnya beragam kuliner Indonesia.

sumber : kompas.com

December 13, 2010 at 5:55 am Leave a comment

Hasil Survei: Toleransi Beragama Warga Jabodetabek Makin Luntur

 

Lunturnya sikap toleransi beragama warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) antara lain ditunjukkan dengan sikap tidak dapat menerima pendirian tempat ibadah oleh penganut agama lain.

Demikian hasil survei yang dilakukan oleh Setara Institute mengenai toleransi sosial masyarakat perkotaan di Jabodetabek. Survei ini dilakukan sejak tanggal 20 Oktober hingga 10 November 2010 terhadap 1.200 responden.

Hasil jajak pendapat opini publik itu memperlihatkan 49,5 persen responden tidak menyetujui adanya rumah ibadah bagi penganut agama yang berbeda dari agama yang dianutnya. Sedangkan 45 persen lainnya dapat menerima keberadaan rumah ibadah agama lain dan sisanya tidak menjawab.

Warga Bekasi, Jakarta Pusat, Depok dan Tangerang yang  paling menentang pendirian rumah ibadah agama lain dengan respon penolakan lebih dari 50 persen.

Peneliti Setara Institute, Ismail Hasani dalam keterangan persnya di Jakarta pada hari Senin mengatakan survei ini menunjukkan potensi ketegangan antar umat beragama akan tetap muncul.

“Kita bertanya apakah masyarakat dapat menerima keberadaan rumah ibadah di lingkungan mereka, 45 persen dapat menerima, 49 persen tidak dapat menerima dan 5,5 persen menyatakan tidak tahu. Dalam posisi seperti ini biasanya memang potensi ketegangan tetap akan muncul di sini,” ungkap Ismail Hasani.

Menurut Ismail Hasani,  penolakan juga terlihat dalam hal penerimaan terhadap kepercayaan di luar enam agama yang ditetapkan oleh pemerintah. Sebanyak 60,9 persen responden tidak menerima berkembangnya agama tak resmi dan 52,1 persen mengharapkan pemberantasan aliran sesat.

Salah satu tokoh agama Katholik, Romo Benny Susetyo menilai lunturnya toleransi beragama di Indonesia salah satunya disebabkan karena banyaknya tokoh agama yang juga masuk ke dalam dunia politik.

“Karena tokoh agama banyak terlibat dalam politik praktis kekuasaan tetapi lupa membina umatnya. Sehingga ini warning bagi tokoh-tokoh agama. Kembali lagilah tokoh agama menjadi agamawan bukan menjadi politik. Menurut saya itu,” jelas Romo Benny.

Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Effendy Simbolon menyatakan  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga harus segera melakukan tindakan untuk mengatasi sejumlah masalah kebebasan beragama di Indonesia. Jika tidak, menurut Effendy, dikhawatirkan kekerasan terhadap agama tertentu akan terus terjadi di Indonesia.

“Di tangan Presidenlah kekuatan untuk menata keresahan horizontal antar masyarakat, memberikan jaminan kepada masyarakat untuk beribadah,” kata Efendy Simbolon.

Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace, Siti Musdah Mulia meminta agar Presiden Yudhoyono bersama pemerintahannya melakukan revisi 141 kebijakan yang sangat mengancam kebebasan beragama di Indonesia, baik yang berada di tingkat nasional maupun daerah.

sumber : voanews.com

 

 

December 5, 2010 at 12:21 am Leave a comment

Dewan Antar Agama Indonesia Dideklarasikan

Jakarta- Tokoh-tokoh lintas agama sepakat untuk membentuk sebuah wadah berhimpun guna mengoptimalkan peran umat beragama, yang disebut dengan Dewan Antaragama (Inter-Religious Council/IRC) Indonesia.

Pembentukan Dewan Antaragama ini dideklarasikan di Jakarta, Kamis, dan beranggotakan para pemuka agama di Indonesia yakni Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu. Selain itu, di dalamnya juga terdapat dua unsur organisasi kemasyarakatan yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Pemrakarsa dari Dewan Antaragama Indonesia Din Syamsuddin yang juga ditetapkan sebagai Ketua Presidium IRC Indonesia mengatakan pembentukan dewan ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang terjadi diantara umat beragama.

Menurut Din, agama masih dipandang sebagai ‘sumber’ masalah, padahal agama adalah penyelesaian dari semua masalah.

“Untuk itu kami memprakarsai pembentukan dewan ini, walaupun selama ini sudah ada dialog dan kerjasama yang terjalin antarumat beragama. Akan lebih baik kalau membentuk wadah berhimpun,” katanya setelah deklarasi pembentukan IRC Indonesia.

Melalui Dewan Antaragama ini maka diharapkan dapat memperlancar komunikasi antarpemimpin umat beragama untuk menyelesaikan permasalahan baik yang melibatkan antarumat beragama maupun di internal umat beragama itu sendiri.

“Ada tantangan yang harus diselesaikan bahwa masih ada masalah antarumat beragama. Alhamdulillah konflik besar sudah memudar tapi masih ada konflik di internal umat beragama sendiri,” kata Din.

Din berharap komunikasi tokoh umat beragama ini tidak hanya dirasakan di tingkat atas saja tetapi juga menyentuh hingga akar rumput.

“Mari, kalau ada masalah kita duduk bersama untuk Indonesia yang maju, adil, makmur, dan bermartabat,” ujar Din.

Deklarasi pembentukan dewan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh agama seperti Andreas Yewangoe, Hasyim Muzadi, Slamet E. Yusuf, SAE Nababan, dan S. Udayana.

Dalam kesempatan tersebut, Hasyim Muzadi yang menjabat sebagai penasihat Dewan Antaragama mengingatkan umat beragama untuk menghargai perbedaan yang demi menciptakan kerukunan.
“Mari kita jaga mana bagian yang bisa dilaksanakan bersama dan mana yang tidak boleh diintervensi. Kaidah dasar yang sama jangan dibedakan tapi yang berbeda jangan dipaksa untuk sama,” kata Hasyim.

Pembentukan Dewan Antaragama ini memperoleh apresiasi dari Sekjen Konferensi Dunia untuk Agama dan Perdamaian (World Conference of Religions and Peace) William Vendley.
Vendley mengatakan pembentukan dewan ini merupakan langkah yang baik untuk menjalin kerjasama antarumat beragama, menghormati perbedaan, dan bersama menghadapi permasalahan yang terjadi di Indonesia.

negara langgar kebebasan beragama
Sekitar 100 tokoh lintas agama di Indonesia mendeklarasikan Inter Religius Council/IRC (Dewan Antar-Agama Indonesia) di Jakarta, Kamis (28/1). IRC adalah perhimpunan para tokoh berbagai agama di Indonesia yang sepakat memaksimalkan peran umat beragama bagi pembangunan bangsa.
Menurut pemrakarsa IRC, Din Syamsuddin, keinginan untuk membentuk lembaga ini sudah lama, karena sebenarnya kebersamaan dan kerja samanya antarumat beragama sudah berkembang sejak dahulu, baik melalui dialog-dialog maupun kerja sama konkret di lapangan. Namun, kelembagaan atau wadah tokoh lintas agama ini baru terbentuk sekarang.

Diharapkan dengan adanya IRC ini lebih memungkinkan tokoh-tokoh agama bisa berperan aktif dalam menyelesaikan persoalan bangsa dan memajukan masyarakat yang adil dan makmur. Menurut Din, IRC beranggotakan perwakilan dari semua agama di Indonesia.

Dikatakan, kondisi beragama di Indonesia sebenarnya sudah cukup rukun, hanya saja masih ada persoalan-persoalan yang harus dibenahi, yang termasuk dalam tanggung jawab lembaga ini. Hadir dalam deklarasi IRC ini antara lain, Ketua Majelis Ulama Indonesia, Nazri Adlani, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Hasyim Muzadi, tokoh Muhammadiyah Syafii Maarif, Ketua Umum Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Dr Martinus D Situmorang OFMCap, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Pdt Dr Andreas Yewangoe, Ketua Wali Umat Budha Indonesia Rusli Tan, Ketua Parisada Hindu Dharma Nyoman Suwira Satria, Ketua Majelis Konfuchu Indonesia Budi Tanuwibowo.

Pelanggaran Kebebasan
Sementara itu, sebelumnya Setara Institute menyebutkan, jumlah pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan paling tinggi justru terjadi di Pulau Jawa. Dari 200 kasus pelanggaran beragama sepanjang tahun 2009, lima teratas terjadi di Jawa Barat (57), Jakarta (38), Jawa Timur (23), Banten (10), dan Nusa Tenggara Barat (9).

Kesimpulan itu didapat dari hasil pemantauan Setara Institute pada Januari-Desember 2009 di 12 provinsi Indonesia, yakni Sumtera Utara, Sumatera Barat, Jakarta, Jawa Barat, Banten, Bali, NTB, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Maluku. Pemantauan dilakukan dari media massa, wawancara otoritas daerah, investigasi kasus spesifik, dan Focus Group Discussion.

“Ini pertanyaan besar, ada apa? Kenapa pemerintah mengabaikan? Kalau di luar sentris pemerintahan masih bisa ditoleransi, tetapi ini malah terjadi di pusat kekuasaan,” kata Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos di Jakarta, Rabu (27/1).

Menurut Bonar, pelanggaran yang dilakukan negara berupa tindakan aktif sebanyak 101 kasus, sedangkan tindakan pembiaran sebanyak 38 kasus. Modus pelanggaran oleh negara antara lain pelarangan keyakinan/agama (17), penyesatan keyakinan/agama (11), pelarangan ibadah dan aktivitas agama (8), penangkapan atas tuduhan sesat (8), dan dukungan penyesatan keyakinan/agama (4).

Di sisi lain, modus pelanggaran oleh warga negara di antaranya pelarangan keyakinan/agama (13), mendirikan tempat ibadah (11), perusakan tempat ibadah (8), perusakan properti (4), pembakaran tempat ibadah (3), dan diskriminasi akses hak atas pekerjaan (3).

“Di Sumatera Selatan, ada syarat menjadi PNS harus khatam Alquran. Bagaimana mungkin untuk non-Muslim,” tutur Bonar.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Indonesia bekerjasama dengan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyelenggarakan Indonesia-US Interfaith Cooperation (Kerjasama Lintas Agama RI-AS) di Hotel Borobudur Jakarta selama 3 hari, yakni 25-27 Januari 2010. Dialog yang bertemakan Building Collaborative Comunities: Enhanching Cooperation among People of Different Faiths ini dihadiri sekitar 90 orang yang berasal dari berbagai kalangan. Antara lain, tokoh lintas agama, masyarakat madani, LSM, akademisi, media dan pejabat dari Kemlu dan Kementrian Agama.

sumber : hariansib.com

January 29, 2010 at 8:00 pm Leave a comment

Indonesia-AS Adakan Kerja Sama Lintas Agama

JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyelenggarakan Indonesia-US Interfaith Cooperation (Kerja Sama Lintas Agama RI-AS), Senin (25/1/2010) ini di Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri, Jakarta.

Kerja sama ini mengusung tema “Building Collaborative Communities: Enchancing Cooperation among People of Different Faiths, dibuka secara resmi oleh Menteri Luar Negeri Marty M Natalegawa.

Dalam acara dialog kerja sama ini, delegasi RI dipimpin Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI Andri Hadi,  beranggotakan 30 orang, terdiri atas perwakilan tokoh lintas agama, LSM, akademisi, media, serta pejabat dari Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Agama.

Delegasi AS dipimpin Senior Director of Global Engagement for the White House National Security Council Pradeep Ramamurthy. Delegasi AS ini terdiri atas 20 orang perwakilan tokoh lintas agama, akademisi, dan LSM, serta 10 tokoh lintas agama dari beberapa negara di kawasan Asia yang bertindak sebagai observer.

Dialog kerja sama lintas agama ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari kesepakatan Menlu RI dan Menlu AS di Washington DC pada 8 Juni 2009 serta pandangan kepala negara dari kedua negara mengenai hubungan Islam dan Barat yang disampaikan dalam kuliah umum Presiden Barack Obama di Universitas Al-Azhar, Kairo, 4 Juni 2009, dan kuliah umum Presiden RI di Harvard University, 29 September 2009.

Berbeda dengan forum-forum dialog bilateral sebelumnya, dialog lintas agama ini tidak hanya akan menghasilkan rekomendasi solusi untuk berbagai persoalan keagamaan yang ada, tapi juga akan menghasilkan kerja sama konkret dalam bentuk kegiatan-kegiatan praktis di bidang pendidikan, promosi good governance, dan peningkatan kinerja masyarakat madani. Hal ini ditegaskan pula oleh Marty Natalegawa.

“Kami berupaya menciptakan dialog dan kerja sama antaragama. Dalam forum dialog ini, kami tidak hanya melulu akan membicarakan masalah konflik dan perdamaian antaragama, tapi juga akan memperluas topik dialog membahas masalah-masalah politik, kemiskinan, penanganan masalah pendidikan, dan lain-lain. Forum dialog ini pun tidak hanya akan menambah daftar rekomendasi, tapi juga akan membuat program atau hasil yang betul-betul action oriented. Rekomendasi yang bisa dilakukan dengan cara konkret ke depannya,” papar Menlu.

Selain menghadiri acara tersebut, delegasi RI dan AS akan mengadakan kunjungan ke Pesantren Darunnajah dan tempat-tempat ibadah lain, antara lain Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, dan Pura Adhitya Jaya. Dari kunjungan tersebut diharapkan akan diperoleh persepsi yang lebih utuh tentang kemajemukan beragama di Indonesia.

sumber : kompas.com

January 25, 2010 at 1:10 pm Leave a comment

Toleransi Beragama di Indonesia Kritis

JAKARTA – Proteksi dan perlindungan negara terhadap kebabasan beragama dan kelompok minoritas agama mengalami penurunan drastis beberapa tahun belakangan ini.  Sikap itu turut mendorong berkembangnya intoleransi oleh kelompok-kelompok tertentu di berbagai daerah di Indonesia.

Lebih dari itu, intoleransi telah disebarkan sedemikian rupa oleh perangkat pemerintah dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) diskriminatif yang dalam berbagai kasus justru menjadi alat legitimasi kekerasan terhadap kaum minoritas.

Demikian di antaranya yang terungkap dalam dengar pendapat antara Koalisi Masyarakat Sipil untuk Kebebasan Beragama dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Jalan Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (18/1/2010).

Hadir di antaranya Romo Benny Soesetyo dari Konferensi Waligereja Indonesia, Rumadi dari The Wahid Institute, Djohan Effendi dan aktivis keagamaan lainnya. Mereka diterima oleh Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim, komisioner Johny Nelson Simanjuntak dan Ahmad Baso.

Dalam paparannya Benny Soesetyo mengatakan, jumlah pengrusakan dan pencabutan izin rumah ibadah meningkat signifikan sejak tahun 2009. Kasus terakhir menimpa gereja di Keuskupan Bandung tepatnya di Cikampek.

Menurut dia, sebenarnya kalau pemerintah konsisten dengan peraturan, maka tidak ada hambatan dalam mendirikan rumah ibadah. “Tapi pemerintah selalu tunduk dengan preman yang menggunakan agama sebagai alasan kekerasan,”ujarnya.

Aktivis HAM tersebut menambahkan, Pemerintah termasuk polisi selama ini mendiamkan aksi-aksi kekerasan oleh kelompok tertentu sehingga kelompok tersebut semakin membesar. “Ada kesan polisi tidak berani menghadapi,” katanya.

Jika Pemerintah tidak punya sikap, sambung Benny, intoleransi akan menyebar di mana-mana. Benny kecewa terhadap para elit politik yang tidak bereaksi apa-apa terhadap fenomena tersebut termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Di Malaysia, Perdana Menterinya berani mengatakan (ada pelanggaran terhadap minoritas) tapi di Indonesia tidak ada sikap  yang tegas dari pemimpin kita, sehingga ada kesan ini politik pembiaran dipelihara oleh negara,” ujarnya.

Subhi dari The Wahid Institute menyampaikan, sepanjang tahun 2009 terdapat 35 kasus pelanggaran yang dilakukan negara terhadap kebebasan beribadah. Sementara pelanggaran oleh masyarakat tercatat 93 kasus. “Yang dibawa ke pengadilan tidak ada,” ujarnya.

Berkaitan dengan pengerusakan tempat ibadah, kata dia, tidak hanya dialami umat kristiani, tapi juga oleh umat Budha dan Yahudi. “Ada Vihara, Sinagoga yang dirusak juga. Kalau gereja tidak usah ditanyakan tiap tahun pasti ada,” katanya.

Bahkan, sepanjang tahun ini saja The Wahid Institute mencatat telah ada 6 kasus pelanggaran terhadap rumah ibadah. Pertama, penyerangan gereja di Kotabumi, Lampung Utara.

Kemudian, pelarangan ibadah jemaah HKBP Pondok Timur Indah oleh warga di Bekasi, perintah penghentian pembangunan gereja HKBP Fidelia Tambun Utara oleh Bupati Bekasi H Saduddin, pelarangan ibadah jemaah HKBP Fidelia oleh massa Forum Komunikasi Umat Islam yang diikuti penyegelan oleh aparat dan pembakaran vihara Tn Dharma Bumi Raya Singkawang.

“Kuncinya itu Presiden, dia sudah bersumpah melaksanakan (konstitusi), ini ada pelanggaran konstitusi, dia mendiamkan,” kata Djohan Effendi menanggapi laporan itu.(hri)

sumber : http://news.okezone.com/read/2010/01/18/337/295122/toleransi-beragama-di-indonesia-kritis

January 18, 2010 at 10:08 am Leave a comment

Bapa yang Kekal

Verse
Kasih yang sempurna telah ku terima dari Mu
Bukan karena kebaikanku hanya, oleh kasih karuniaMU
Kau pulihkan aku
Layakan ku tuk dapat memanggilMu Bapa

Chorus
Kau beri yang kupinta
Saat ku mencari kumendapatkan
Kuketuk pintuMu dan KAu bukakan
Sbab Kau bapaKU bapa yang kekal

Tak kan Kau biarkan aku melangkah hanya sendirian
Kau selalu ada bagiku
Sbab Kau Bapaku Bapa yang kekal

sumber : http://www.gsn-soeki.com/lagu/terbaru06.php

January 4, 2010 at 11:07 pm Leave a comment


Silahkan kunjungi website baru kami YesusCintaIndonesia.com

Categories