Membangun Jembatan bagi Toleransi di Australia

February 4, 2010 at 6:55 pm Leave a comment


Sebuah program komunitas interfaith antarsekolah yang dinamai Building Bridges didirikan untuk membangun jembatan bagi toleransi di Australia

Salah satu tantangan berada di tengah masyarakat yang begitu multikultural adalah risiko menjadi korban stereotype dan saling salah pengertian. Inilah risiko yang juga dihadapi oleh anak-anak yang berada di Australia, dimana walaupun penduduknya multikultural tetapi masih terdapat segregasi tingkat tinggi diantara masyarakatnya. Jika dalam sebuah masyarakat cenderung saling mencurigai, sedikit komunikasi, dan banyak salah pengertian, tentu saja hasil ekstrimnya bisa terjadi bullying antaragama dan antarras, atau rasisme yang berujung pada kekerasan fisik.

Tim McCowan dari WellSpring Retreat Center mulai mengajukan suatu alternatif solusi menghindari hal tersebut dalam sebuah program outreach mereka, 6 tahun yang lalu. Formatnya adalah dengan sebuah program komunitas interfaith antarsekolah yang dinamai Building Bridges.

Program ini tujuannya adalah menyediakan platform untuk siswa-siswi dari sekolah dengan latar belakang agama yang berbeda (sekolah Muslim, Yahudi, dan Kristen-Katolik) saling berkomunikasi, berbagi cerita tentang persamaan dan perbedaan mereka, dan saling bertanya. Sampai sekarang, 24 sekolah (kebanyakan swasta) dari Victoria bagian timur, barat, utara dan selatan, sudah bergabung dalam program ini.

Ketika Mr McCowan mendatangi Kepala Mazenod College 3 tahun yang lalu, Father Pat Maroney untuk presentasi, Father Maroney setuju untuk mengimplementasikan Building Bridges di sekolah tersebut. Father Michael Twigg, yang pada waktu itu menjabat sebagai Religious Education Coordinator, diminta untuk mengordinir beberapa siswa Mazenod yang ingin berpartisipasi.

Father Twigg yang ramah menyambut kami ke dalam ruang meetingnya untuk bercerita lebih dalam tentang Building Bridges.

Program Building Bridges mempunyai dua fokus utama: proses berbagi informasi dan saling bertanya, dan “Creative Day.” Setiap grup Building Bridges terdiri dari sekitar 50 siswa-siswi dari 5 sekolah yang berbeda. Mereka bertemu 5 kali, dengan tempat pertemuan (host school) bergilir diantara sekolah-sekolah yang berada dalam satu grup.

Games, ice breakers dan 25 menit pendidikan interfaith akan mengawali setiap meeting. Host school akan memulai dengan presentasi info-info tentang agama mereka. Kemudian, sesi tanya jawab secara formal akan digelar. “Siapa Yesus?”, “Kenapa kamu harus memakai jilbab?” adalah 2 contoh pertanyaan yang muncul. Menyediakan lingkungan yang aman untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan menyediakan jawaban dan penjelasan yang akurat adalah tujuan dari segmen ini.

Segmen selanjutnya berkisar ke pemahaman yang lebih dalam tentang filosofi “building bridges”. Kenapa kita perlu membangun sebuah jembatan? Bagaimana kita akan membangunnya? Apa saja perbedaan kita? Bagaimana kita memulai sebuah dialog? Sebuah aktivitas dengan fokus utama membangun kepercayaan dan menemukan persamaan sebagai umat manusia. Sesi ini tentang menyadari bahwa semua siswa-siswi adalah semata-mata manusia dan bisa berbagi, dan mempunyai perasaan dan pengalaman yang sama.

Apapun agama mereka, mereka semuanya menyukai menonton film, menyukai musik, penggemar tim football yang sama, sama-sama suka argumen dengan orangtua mereka, merasa sulit untuk belajar, sulit untuk mengeluarkan perasaan mereka, dan bahwa mereka sama-sama menyukai pantai.

Beberapa siswa pria yang bukan Muslim, agak terkejut waktu mengetahui bahwa anak perempuan Muslim boleh pergi ke pantai. Murid-murid Kristen juga terkejut waktu mengetahui bahwa murid-murid Muslims dan Yahudi sering mengalami banyak kesulitan dan tantangan dalam menjadi kelompok minoritas di Australia. Hal-hal simpel seperti inilah yang membuat mereka banyak mengetahui hal baru, meningkatkan kesadaran mereka, dan memperluas pandangan mereka.

Setelah itu, makanan akan dihidangkan dalam sesi group dinner. Vegetarian pizza adalah pilihan yang tepat karena hidangan ini adalah satu pilihan yang bisa diakomodasi oleh semua keyakinan yang terlibat dalam program ini (Muslims harus memakan halal food, dan Jews harus memakan kosher food).

Dalam group dinner inilah, terjadi sharing yang lebih dalam lagi. Di sesi ini, para murid meneruskan percakapan dalam setting yang lebih intim dan personal, dibandingkan dengan setting percakapan sebelumnya. Beberapa murid juga mendeskripsikan momen tersebut sebagai pengalaman spiritual mereka yang paling berkesan.

Sebagai hasil dari berbagi cerita yang lumayan intens ini, murid-murid mengambil kesimpulan bahwa mereka tidak akan langsung percaya dengan apapun yang diajarkan kepada mereka, melainkan cari tahu sendiri dan berkaca pada pengalaman mereka sendiri. Untungnya, keluarga murid-murid yang berpartisipasi di program ini biasanya cukup berpikiran terbuka dan sangat mendukung eksplorasi semacam itu (karena partisipasi di program ini adalah secara sukarela). Dengan lebih banyak percakapan dan berbagi pengalaman tentang agama dan keyakinan, banyak murid-murid yang merasa bahwa mereka justru merasa keyakinan yang lebih kuat tentang agama mereka.

Karena tujuan program ini adalah untuk membuat masyarakat dalam sebuah komunitas merasa aman untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti diatas tanpa sebuah program sebagai fasilitator, Father Twigg mengakui bahwa selama program masih berjalan, artinya masih banyak yang perlu dilakukan.

“Keuntungannya secara konkrit masih kita tunggu, tapi hal yang lebih penting adalah sudah ada kemajuan dalam bentuk program yang berjalan untuk mempromosikan dialog yang aman. Program ini telah mengajarkan nilai yang bagus, bukannya nilai-nilai isolasi diri. Kita berharap bahwa Australia bisa menjadi contoh bagus tentang bagaimana orang-orang yang berbeda latar belakang bisa hidup bersama dan mempunyai tujuan yang sama, dan mempunyai cinta dalam kebersamaan” ujarnya.

Father Twigg juga mengakui masih banyak tantangan dalam program ini. “Sulit untuk membuat orang lupa dari mana asal mereka, atau bagaimana mereka pernah diserang hanya karena akar mereka atau penampilan luar mereka. Menghancurkan stereotipe dan prejudices akan mempunyai banyak hambatan. Hambatan ini bisa berupa pertanyaan yang menantang, belajar untuk mengekspresikan pemahaman atau perasaan secara akurat, bicara dengan orang-orang baru, dan menghadapi kritik dari teman-teman sepermainan yang mempertanyakan perlunya berpartisipasi di program-program seperti ini.” Ditambah lagi, program ini tidak menerima bantuan Pemerintah Australia sama sekali.

Walaupun begitu, salah satu kelebihan acara ini adalah antusiasme yang besar dari para peserta. Karena partisipasi di acara ini secara sukarela, maka banyak dari mereka yang benar-benar tertarik dan rela untuk mendedikasikan banyak waktu, usaha, dan pikiran untuk program ini. Komitmen mereka secara nyata bisa dilihat dalam “Creative Day” mereka.

“Creative Day” adalah ketika masing-masing tim melakukan atau membuat karya seni bersama, misalnya sebuah tarian, sebuah lagu, atau drama. Namun, tim dari region Selatan ingin melakukan sesuatu yang berbeda dan memutuskan untuk membangun pagar untuk lahan-lahan petani-petani yang terpengaruh oleh Black Saturday bushfire.

Kegiatan ini mempunyai tujuan yang jelas, dan akan menciptakan sesuatu yang benar-benar sangat berguna untuk komunitas petani. Ide untuk melakukan aktivitas semacam ini mendapat tanggapan yang sangat positif, bahkan daerah yang lain sudah menyatakan niat untuk membuat kegiatan semacam itu untuk selanjutnya.

Petani yang dibantu tentu saja sangat terharu. Mereka berkata, bahwa jika mereka melakukan sendiri, pekerjaan itu akan memakan waktu 12 minggu. Tidak heran bahwa mereka sangat senang, terkejut, sangat menghargai dan sangat bersyukur atas bantuan ini. Sementara dari segi para murid, mereka berkata walaupun mereka kerja keras dan sangat lelah, tetapi pengalaman tersebut adalah, “the best tired that I have ever had.”

Dalam acara penutup Building Bridges, murid-murid mengakui bahwa reaksi awal mereka bervariasi mulai dari penasaran, merasa riskan, dan tidak tahu apa yang akan terjadi. Seiring berjalannya program, mereka menyadari bahwa semuanya lumayan normal dan ramah. Mereka merasa memiliki momen-momen yang bagus dalam program ini. Tetapi yang paling bisa diingat adalah bahwa mereka belajar dan bisa menerima, mengerti, menghargai, bahkan menyukai orang-orang yang mereka temui lewat program ini. “

Toleransi” menjadi kata yang buruk. Karena, sesuatu yang kita tolerir mengindikasikan sesuatu yang kurang dari apa yang akan kita sukai. Mereka lebih menyukai kata-kata seperti saling menghormati dan saling mengerti. Program ini meninggalkan satu pesan – bahwa ketika muda-mudi bergabung bersama dan melupakan perbedaan mereka sejenak, mereka bisa melakukan hal-hal hebat yang membantah image negatif tentang anak muda yang mungkin ada di mata publik. Building Bridges bertujuan untuk menjadi, dan memang adalah, sebuah cerita positif kaum muda Australia.

Michael Twigg
Father Michael Twigg dari Mazenod College di Wheeler’s Hill adalah Southern Region Coordinator untuk program Building Bridges 2009. Mazenod sendiri adalah sekolah Katholik khusus untuk anak laki-laki yang mempunyai komposisi siswa yang sangat beragam dengan 86 kebudayaan dan agama yang berbeda.

Mazenod memberi pilihan aktivitas yang lebih banyak untuk siswa-siswanya mengekspresikan talenta dan hobi mereka. Peraihan prestasi akademis bukanlah satu-satunya fokus pendidikan di Mazenod. Sekolah ini mempunyai filosofi bahwa bakat masing-masing anak, yang unik dan berbeda, sama-sama penting untuk dialurkan, diarahi dan diberikan kesempatan. Hal yang juga diutamakan Mazenod adalah jika bakat anak tersebut bisa dijadikan sumber pelayanan kepada masyarakat sekitar.

Father Michael Twigg pada tahun 2010 ini menggantikan Father Pat Maroney, yang sudah pensiun, untuk menjadi Kepala Mazenod College. Ternyata, Father Twigg bukan orang yang asing akan Indonesia. Ia pernah dikirim bertugas di Kalimantan Timur selama 6 bulan, setelah sebelumnya hanya belajar Bahasa Indonesia selama 10 hari di Yogyakarta. Father Pat Maroney sendiri juga ternyata sempat tinggal bertahun-tahun di Indonesia.

sumber : edukasi.kompas.com

Entry filed under: Berita. Tags: , , , .

Pimpinan Gereja di P Siantar Minta Pelaku Pembakaran Gereja di Sibuhuan Ditangkap Gereja Katolik St Maria de Fatima Tak Pernah Absen Rayakan Imlek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Silahkan kunjungi website baru kami YesusCintaIndonesia.com

Categories

Top Clicks

  • None

%d bloggers like this: