Habibie dan Kibaran Bendera Pusaka

February 2, 2010 at 7:34 am Leave a comment


Aku bekunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) hanya dua kali, yaitu tahun 1995 dan tahun 2004. Itu pun terpaksa karena aku harus melapor ketika pertama tiba di Belanda dan untuk memperpanjang pasporku. Aku malas mengikuti acara apa pun yang diselenggarakan oleh kedutaan. Menurutku pegawainya tidak ramah, semuanya serba pelan dan sistem antri yang panjang. Seperti suasana ketika aku mengurus KTP di kantor kelurahan. Bedanya kantor ini berada di kawasan elit Wassenaar yang mana seluruh duta besar negara-negara di dunia menancapkan tiang benderanya. Mungkin aku membandingkan sistim kerja mereka dengan cara kerja para pegawai pemerintahan Belanda yang serba cepat.

Di suatu pagi karena bujukan sahabatku, aku mengikuti Misa Natal Oikumene kedua di Den Haag, yang diorganisasi oleh KBRI, Badan Kerjasama Umat Kristiani Indonesia (BK UKIN), Perhimpunan Pelajar Indonesia(PPI).  Misa ini dipimpin oleh beberapa pastor dan pendeta berkepala hitam dan Indonesia sebagai bahasa pengantarnya. Benar-benar saat itu ada perasaan yang aneh di dadaku, ketika aku mendengar doa-doa dan lagu-lagu dalam bahasaku. Entahlah, mungkin seperti sebuah kerinduan yang amat dalam yang aku sendiri tidak menyadarinya. Aku tertawa terbahak-bahak ketika seorang pendeta saat berkotbah menyelipi beberapa lelucon khas Indonesia. Mungkin karena lelucon ini hanya bisa dibuat oleh anak-anak bangsa dan dimengerti oleh para putra-putri pertiwi. Jika aku menceritakan lelucon ini kepada orang Belanda, maka mereka tidak akan memahami apa yang lucu dalam lelucon ini.

Saat itu di halaman rumah pribadinya di bawah kibaran Bendera Merah Putih, Bapak Habibie menyediakan tenda besar yang mampu memuat lebih dari seribu orang. Tenda ini dihubungkan dengan ruang tamunya. Pintu rumahnya terbuka sangat lebar, seakan-akan pintu itu menyambut kami dengan keramah-tamahannya. Di tiap pojok tenda ada meja yang penuh makanan Indonesia yang kurindukan.

Aku terdiam ketika mendengar suara pidatonya secara spontan, tulus dan bersahabat, mengucapkan selamat natal untuk kami. Malahan Beliau menyebut nama Yesus sebagai juru selamat kami. Sementara aku tahu bahwa Beliau beragama Islam karena selama ini aku tidak pernah mendengar seorang pejabat tinggi yang beragama Islam menyebutkan hal itu. meskipun hanya untuk kalimat pengantar dalam sebuah pidato.

Beliaulah yang mengusulkan agar KBRI mengorganisasi acara Natal setiap tahun. Hal itu pun hampir tidak disetujui oleh para pegawai KBRI yang mayoritas Muslim. Ternyata Natal saat itu adalah pesta Natal yang ketiga. Aku harap bukan yang terakhir karena setelah itu Beliau akan meninggalkan Belanda. Sementara belum tentu Dubes penggantinya akan meneruskan idenya.

Aku terharu ketika Beliau menceritakan bahwa istrinya tahun lalu meninggal. Beberapa hari sebelum Natal, Beliau menemui istrinya yang sedang sakit di Jakarta.  Ibu Habibie berkata, ”Bapak, harus kembali ke Belanda karena Bapak berjanji untuk merayakan Natal kedua bersama.” Akhirnya Beliau kembali ke Belanda untuk merayakan Natal bersama. Hal itu sangatlah menyedihkan karena pertemuan itu adalah pertemuan terakhir Beliau dengan Ibu Habibie.

Kepemimpinan Beliau, yang mempersatukan dua agama; Islam dan Kristen untuk bahu-membahu dan bekerja sama, meskipun dalam hal-hal yang kecil seperti ide sederhananya; yaitu pada pesta Natal, grup Islam yang mengorganisasi makanan dan pada saat Idul Fitri, grup Nasrani yang menyiapkan makanan. Juga saat Idul Fitri yang lalu kelompok dari agama Kristen membantu mendirikan tenda untuk saudaranya yang beragama Islam. Sesuatu yang berbeda jika kubandingkan situasi ini dengan situasi di Indonesia yang aku baca di koran tentang perselisihan yang terus-menurus antara dua agama ini.

Di rumah Dubes Beliau di Wassenaar-Den Haag dan di bawah kibaran Bendera Pusaka; aku pulang sejenak ke tanah airku untuk merayakan Natal bersama saudaraku, keluarga besar Indonesia. Hari itu aku menemukan tempat untuk beristirahat dari keletihan hidup di negeri orang, meskipun sejenak. Karena Beliaulah aku menemukan tempat itu. Beliaulah salah satu tokoh pemimpin yang aku kagumi, maka tak salahlah kalau Beliau dinobatkan sebagai Ambassador of the Year 2008 oleh pemerintah Belanda. (*)

Penulis: Peserta Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH) Angkatan II

sumber : kabarindonesia.com

Entry filed under: Berita. Tags: , , , .

Dewan Antar Agama Indonesia Dideklarasikan Gereja Katholik Prancis Tolak Pelarangan Cadar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Silahkan kunjungi website baru kami YesusCintaIndonesia.com

Categories


%d bloggers like this: