Dewan Antar Agama Indonesia Dideklarasikan

January 29, 2010 at 8:00 pm Leave a comment


Jakarta- Tokoh-tokoh lintas agama sepakat untuk membentuk sebuah wadah berhimpun guna mengoptimalkan peran umat beragama, yang disebut dengan Dewan Antaragama (Inter-Religious Council/IRC) Indonesia.

Pembentukan Dewan Antaragama ini dideklarasikan di Jakarta, Kamis, dan beranggotakan para pemuka agama di Indonesia yakni Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu. Selain itu, di dalamnya juga terdapat dua unsur organisasi kemasyarakatan yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Pemrakarsa dari Dewan Antaragama Indonesia Din Syamsuddin yang juga ditetapkan sebagai Ketua Presidium IRC Indonesia mengatakan pembentukan dewan ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang terjadi diantara umat beragama.

Menurut Din, agama masih dipandang sebagai ‘sumber’ masalah, padahal agama adalah penyelesaian dari semua masalah.

“Untuk itu kami memprakarsai pembentukan dewan ini, walaupun selama ini sudah ada dialog dan kerjasama yang terjalin antarumat beragama. Akan lebih baik kalau membentuk wadah berhimpun,” katanya setelah deklarasi pembentukan IRC Indonesia.

Melalui Dewan Antaragama ini maka diharapkan dapat memperlancar komunikasi antarpemimpin umat beragama untuk menyelesaikan permasalahan baik yang melibatkan antarumat beragama maupun di internal umat beragama itu sendiri.

“Ada tantangan yang harus diselesaikan bahwa masih ada masalah antarumat beragama. Alhamdulillah konflik besar sudah memudar tapi masih ada konflik di internal umat beragama sendiri,” kata Din.

Din berharap komunikasi tokoh umat beragama ini tidak hanya dirasakan di tingkat atas saja tetapi juga menyentuh hingga akar rumput.

“Mari, kalau ada masalah kita duduk bersama untuk Indonesia yang maju, adil, makmur, dan bermartabat,” ujar Din.

Deklarasi pembentukan dewan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh agama seperti Andreas Yewangoe, Hasyim Muzadi, Slamet E. Yusuf, SAE Nababan, dan S. Udayana.

Dalam kesempatan tersebut, Hasyim Muzadi yang menjabat sebagai penasihat Dewan Antaragama mengingatkan umat beragama untuk menghargai perbedaan yang demi menciptakan kerukunan.
“Mari kita jaga mana bagian yang bisa dilaksanakan bersama dan mana yang tidak boleh diintervensi. Kaidah dasar yang sama jangan dibedakan tapi yang berbeda jangan dipaksa untuk sama,” kata Hasyim.

Pembentukan Dewan Antaragama ini memperoleh apresiasi dari Sekjen Konferensi Dunia untuk Agama dan Perdamaian (World Conference of Religions and Peace) William Vendley.
Vendley mengatakan pembentukan dewan ini merupakan langkah yang baik untuk menjalin kerjasama antarumat beragama, menghormati perbedaan, dan bersama menghadapi permasalahan yang terjadi di Indonesia.

negara langgar kebebasan beragama
Sekitar 100 tokoh lintas agama di Indonesia mendeklarasikan Inter Religius Council/IRC (Dewan Antar-Agama Indonesia) di Jakarta, Kamis (28/1). IRC adalah perhimpunan para tokoh berbagai agama di Indonesia yang sepakat memaksimalkan peran umat beragama bagi pembangunan bangsa.
Menurut pemrakarsa IRC, Din Syamsuddin, keinginan untuk membentuk lembaga ini sudah lama, karena sebenarnya kebersamaan dan kerja samanya antarumat beragama sudah berkembang sejak dahulu, baik melalui dialog-dialog maupun kerja sama konkret di lapangan. Namun, kelembagaan atau wadah tokoh lintas agama ini baru terbentuk sekarang.

Diharapkan dengan adanya IRC ini lebih memungkinkan tokoh-tokoh agama bisa berperan aktif dalam menyelesaikan persoalan bangsa dan memajukan masyarakat yang adil dan makmur. Menurut Din, IRC beranggotakan perwakilan dari semua agama di Indonesia.

Dikatakan, kondisi beragama di Indonesia sebenarnya sudah cukup rukun, hanya saja masih ada persoalan-persoalan yang harus dibenahi, yang termasuk dalam tanggung jawab lembaga ini. Hadir dalam deklarasi IRC ini antara lain, Ketua Majelis Ulama Indonesia, Nazri Adlani, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Hasyim Muzadi, tokoh Muhammadiyah Syafii Maarif, Ketua Umum Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Dr Martinus D Situmorang OFMCap, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Pdt Dr Andreas Yewangoe, Ketua Wali Umat Budha Indonesia Rusli Tan, Ketua Parisada Hindu Dharma Nyoman Suwira Satria, Ketua Majelis Konfuchu Indonesia Budi Tanuwibowo.

Pelanggaran Kebebasan
Sementara itu, sebelumnya Setara Institute menyebutkan, jumlah pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan paling tinggi justru terjadi di Pulau Jawa. Dari 200 kasus pelanggaran beragama sepanjang tahun 2009, lima teratas terjadi di Jawa Barat (57), Jakarta (38), Jawa Timur (23), Banten (10), dan Nusa Tenggara Barat (9).

Kesimpulan itu didapat dari hasil pemantauan Setara Institute pada Januari-Desember 2009 di 12 provinsi Indonesia, yakni Sumtera Utara, Sumatera Barat, Jakarta, Jawa Barat, Banten, Bali, NTB, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Maluku. Pemantauan dilakukan dari media massa, wawancara otoritas daerah, investigasi kasus spesifik, dan Focus Group Discussion.

“Ini pertanyaan besar, ada apa? Kenapa pemerintah mengabaikan? Kalau di luar sentris pemerintahan masih bisa ditoleransi, tetapi ini malah terjadi di pusat kekuasaan,” kata Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos di Jakarta, Rabu (27/1).

Menurut Bonar, pelanggaran yang dilakukan negara berupa tindakan aktif sebanyak 101 kasus, sedangkan tindakan pembiaran sebanyak 38 kasus. Modus pelanggaran oleh negara antara lain pelarangan keyakinan/agama (17), penyesatan keyakinan/agama (11), pelarangan ibadah dan aktivitas agama (8), penangkapan atas tuduhan sesat (8), dan dukungan penyesatan keyakinan/agama (4).

Di sisi lain, modus pelanggaran oleh warga negara di antaranya pelarangan keyakinan/agama (13), mendirikan tempat ibadah (11), perusakan tempat ibadah (8), perusakan properti (4), pembakaran tempat ibadah (3), dan diskriminasi akses hak atas pekerjaan (3).

“Di Sumatera Selatan, ada syarat menjadi PNS harus khatam Alquran. Bagaimana mungkin untuk non-Muslim,” tutur Bonar.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Indonesia bekerjasama dengan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyelenggarakan Indonesia-US Interfaith Cooperation (Kerjasama Lintas Agama RI-AS) di Hotel Borobudur Jakarta selama 3 hari, yakni 25-27 Januari 2010. Dialog yang bertemakan Building Collaborative Comunities: Enhanching Cooperation among People of Different Faiths ini dihadiri sekitar 90 orang yang berasal dari berbagai kalangan. Antara lain, tokoh lintas agama, masyarakat madani, LSM, akademisi, media dan pejabat dari Kemlu dan Kementrian Agama.

sumber : hariansib.com

Entry filed under: Berita. Tags: , , , , .

John Travolta : Mampu Bertahan Berkat Iman Habibie dan Kibaran Bendera Pusaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Silahkan kunjungi website baru kami YesusCintaIndonesia.com

Categories


%d bloggers like this: