LAPPAN Gelar Refleksi 10 Tahun Konflik Maluku

January 24, 2010 at 7:22 pm Leave a comment


Ambon (ANTARA News) – Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LAPPAN) Maluku menggelar refleksi 10 tahun konflik Maluku bersama komunitas perempuan “Bangkit dan Bersuara” di Ambon, Sabtu.

Direktur LAPPAN, Bai Hadjar Tualeka kepada ANTARA, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengajak kaum wanita dari berbagai komunitas korban konflik, untuk merefleksi kembali tregedi kemanusiaan yang pernah terjadi di provinsi itu pada Januari 1999, sebagai proses pembelajaran agar tidak terulang kembali di masa mendatang.

“Kami berharap konflik kemarin bukan hanya menjadi sejarah bagi orang Maluku, tetapi menjadi proses pembelajaran bagi masyarakat untuk belajar dari masa lalu, agar kekerasan tersebut tidak terulang lagi,” katanya.

Kegiatan refleksi itu melibatkan kaum wanita dari kelompok-kelompok majelis ta`lim dan Unit perempuan Gereja Protestan Maluku (GPM) di berbagai kawasan di Ambon yang tergabung dalam komunitas “Bangkit dan Bersuara” untuk mengeksplorasi persoalan perempuan di tingkat masyarakat.

Menurut dia, pasca konflik banyak terjadi masalah yang melibatkan perempuan, diantaranya kurangnya pengetahuan tentang akses pendidikan, layanan kesehatan, pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin (JAMKESMAS).

“Persoalan perempuan sangat kompleks. Dengan kegiatan ini kami bisa bersama-sama memikirkan jalan keluarnya,” kata Tualeka.

Ia menyatakan, sulit bagi perempuan untuk mencari keadilan apabila mereka sendiri tidak memiliki akses untuk menyampaikan apa yang terjadi, sehingga perlu adanya konsolidasi gerakan perempuan untuk saling mendukung dalam menyuarakan hak-hak mereka, di samping mendorong upaya pemerintah dalam memberikan layanan yang terbaik bagi kaum perempuan.

“Gerakan ini dapat menginspirasi kaum perempuan lainnya yang ada di Maluku untuk bangkit dan saling mendukung, sekaligus mendorong upaya pemerintah untuk menciptakan perlindungan bagi perempuan korban kekerasan,” ujarnya.

Tualeka mengatakan angka kekerasan terhadap perempuan di Maluku terus meningkat setiap tahunnya. Tercatat pada 2009 ada 200-an kasus kekerasan dalam rumah tangga yang ditangani oleh LAPPAN.

“Masih banyak kasus-kasus kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan yang tidak terdata, karena banyak dari korban yang tidak tahu kemana harus melapor,” katanya.

Ia menambahkan, selama ini pendidikan dan sosialisasi Undang-Undang (UU) No.23 tahun 2004 tentang Penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (PKDRT) di Maluku belum berjalan maksimal, sehingga perlu adanya kerjasama antara kaum wanita untuk membantu menginformasikan melalui kegiatan-kegiatan yang melibatkan perempuan.

“Kaum perempuan perlu berkerja sama sehingga bisa berbagi informasi sekaligus mencari solusi penyelesaian masalah yang dihadapi,” kata Tualeka.(*)

sumber : antara.co.id

Entry filed under: Berita. Tags: , , , , , , .

BKAG: Umat beragama dihimbau jaga kekondusifan daerah Dua Gereja Dibakar di Palas, Anggota DPRDSU Marasal Hutasoit Telpon Langsung Bupati dan Kapolres Tapsel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Silahkan kunjungi website baru kami YesusCintaIndonesia.com

Categories


%d bloggers like this: