Herald, Kisah Tabloid Mingguan Katolik yang Kukuh Perjuangkan Kata Allah di Malaysia

January 20, 2010 at 12:10 pm 1 comment


Tabloid Herald Catholic Weekly membuat sejarah dalam dunia peradilan di Malaysia. Ketika penggunaan kata “Allah” dalam terbitan bahasa Melayu-nya dilarang, tabloid itu melawan. Mereka menggugat hingga ke Pengadilan Tinggi Kualalumpur. Hasilnya, gugatan mereka dikabulkan. Kasus tersebut lantas memicu vandalisme di sejumlah gereja di negeri jiran itu. Pastor Lawrence Andrew Jr meletakkan dokumen cukup tebal, sekitar 500 halaman, di meja ruang kerjanya saat Jawa Pos (induk Jambi Independent) berkunjung ke kantornya di Selangor, Senin (18/1).

Dokumen tersebut merinci secara detail kronologi lahirnya gugatan kepada pemerintah yang melarang penggunaan kata Allah di tabloid Herald yang dikelolanya. “Biar tak salah inform, saya buka dokumen ini,” ujarnya memulai pembicaraan.

Lawrence mengisahkan, Herald sebenarnya ada sebelum Malaysia merdeka. Saat itu masih menjadi satu dengan Singapura di bawah jajahan Inggris. Ketika dua negara tersebut akhirnya berpisah dan Singapura menjadi negara lebih maju, tabloid untuk umat Katolik itu langsung diimpor dari Singapura. “Dalam perkembangannya, umat Katolik di Singapura lebih maju daripada di Malaysia,” tuturnya.

“Karena itu, kami merasa perlu membuat edisi yang khas Malaysia,” lanjut Lawrence.

Setelah beberapa tahun ide tersebut dirancang, muncullah edisi pertama Herald berbahasa Melayu pada 1994. Sejak saat itu pula kata “Allah” sudah digunakan dalam terbitan tersebut. Karena masih baru, edisi Melayu itu hanya menjadi sisipan satu lembar dalam edisi bahasa Inggris.

Karena hanya menjadi sisipan, tak banyak pihak yang mengetahui penggunaan kata “Allah”. Apalagi sejak diterbitkan kali pertama itu, tabloid tersebut tidak dijual dan diedarkan secara umum. “Hanya untuk umat Katolik dan pengunjung gereja,” jelasnya.

Selain itu, isi sisipan hanya berupa laporan berbagai kegiatan umat Katolik yang sangat jarang menyebut kata “Allah”.

Setelah mengalami kemajuan, Herald edisi Melayu terbit menjadi 12 halaman pada 1998. Di situlah mulai ada kolom siraman rohani yang ditulis pastor atau rohaniwan lainnya. Selain itu, ada kutipan Alkitab yang ditempatkan di pojok kanan halaman depan. Karena kutipan tersebut diambil dari Injil yang dicetak dan diimpor dari Indonesia, muncullah kata “Allah” itu.

Mei 1998, setelah empat tahun terbit, peringatan dari pemerintah muncul. Kala itu pemerintah melarang penggunaan “Allah” ditulis dalam edisi Herald, sebab di sejumlah negara bagian di Semenanjung, kata “Allah” memang eksklusif hanya digunakan Muslim. Namun, beberapa tahun berlalu, masalah itu tidak menjadi besar seperti saat ini.

Masalah tersebut muncul lagi pada 2002. Karena saat itu Herald masih menggunakan kata “Allah” dalam edisinya, pengadilan kembali mengirim surat peringatan. Kali ini peringatan tersebut cukup keras, yakni pemerintah akan mencabut izin penerbitan tabloid itu.

Oleh pengelola Herald, kasus tersebut lantas diadukan kepada wakil rakyat mereka di parlemen. Melalui wakil di parlemen itulah akhirnya kasus penggunaan kata “Allah” tersebut sampai dibahas dalam rapat kabinet. “Kabinet bilang tidak masalah menggunakan kata ‘Allah’,” lanjutnya.

Beberapa tahun berlalu, masalah penggunaan kata “Allah” kembali mereda. Hingga pergantian pucuk pimpinan pemerintah pada 2006. Saat itu, surat teguran diikuti ancaman pencabutan izin kembali dikirim hampir setiap bulan. “Padahal pada zaman Mahathir (Mahathir Mohamad, PM sebelumnya, red) hal itu tidak terjadi,” keluh Lawrence.

Puncaknya terjadi pada 2007. Saat itu izin edar Herald akan habis. Ketika pengelola tabloid tersebut mengajukan izin perpanjangan, mereka merasa dipersulit. Karena itu, Herald lantas mengajukan gugatan. Butuh waktu setahun untuk menunggu hingga akhirnya gugatan tersebut disidangkan. “Barulah 31 Desember 2009 itu kami berhasil dan menang di pengadilan,” ungkapnya.

Menurut Lawrence, kata “Tuhan” dan “Allah” itu berbeda. Dia juga membantah tuduhan pemerintah bahwa kata “Allah” baru saja diperkenalkan di Semenanjung. Pria yang sehari-hari juga menjadi redaktur Herald itu lalu menunjukkan Injil terbitan 1895 yang dicetak di Hongkong.

Kitab Injil tersebut menggunakan bahasa dan dialek Melayu. Bukti Injil itulah yang juga diajukan dalam Pengadilan Tinggi Kualalumpur dan menjadi perhatian majelis hakim. “Dasar kami kuat, makanya kami menang,” ujarnya.

Lawrence menuturkan, putusan hakim yang memenangkan Herald menjadi sejarah besar di Malaysia, sebab banyak kasus yang lebih besar akhirnya kalah di pengadilan karena intervensi kerajaan.

Meski demikian, pemerintah tidak puas atas putusan Pengadilan Tinggi tersebut. Karena itu, banding pun diajukan. Kerajaan juga meminta Herald tak menggunakan kata “Allah” sebelum ada putusan pengadilan banding. “Kami ikuti aturan itu dan sampai saat ini, meski sudah ada putusan yang memenangkan kami, Herald sementara tak menggunakan kata ‘Allah’,” ungkapnya.(*)

sumber : jambi-independent.co.id

Entry filed under: Berita. Tags: , , , , , , , , , .

MANGGARAI : Lima Ruang Kelas Ambruk Penembak Paus Paulus II Minta Pengarang “The Da Vinci Code” Menulis Buku Tentang Dirinya

1 Comment Add your own

  • 1. Firmus Mo'a Passar  |  September 12, 2015 at 9:12 am

    Inilah bukti kebodohan manusia. Mereka diciptakan oleh “Allah” yang sama tetapi mereka menyatakan seolah merekalah pemilik sang Pencipta itu sendiri, sementara Allah menginginkan manusia hidup dalam KASIH. Agama hakekatnya adalah sarana utk mendekatkan diri dgn Allah dan krn itu janganlah menjadi sumber perpecahan antar manusia. Sangatlah ironis kalau manusia harus saling berkonflik karena agama yg hrsnya menjadi sarana utk semakin dekat dg Allah.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Silahkan kunjungi website baru kami YesusCintaIndonesia.com

Categories

Top Clicks

  • None

%d bloggers like this: