Nama “Allah” untuk Kaum Kristiani

January 15, 2010 at 6:49 am 3 comments


Lagi kita menyaksikan peristiwa memalukan yang mencoreng wajah Islam sebagai sebuah agama damai. Yakni perusakan terhadap delapan bangunan gereja oleh sekelompok kecil umat Islam di Malaysia.

Peristiwanya bermula dari keputusan pengadilan tinggi (PT) Malaysia pada 31 Desember 2009, yang mengizinkan umat Kristen kata “Allah” untuk menyebut God, dalam bahasa Inggris. Pengadilan juga memutuskan bahwa kata “Allah” bukan monopoli Islam. Itu karena kata tersebut sudah muncul sebelum Islam lahir dan bahkan sudah lebih dulu digunakan umat Kristen di Timur Tengah.

Keputusan PT itu membatalkan larangan pemerintah kepada umat Kristen untuk menggunakan kata “Allah”. Larangan itu muncul setelah terjadi unjuk rasa menyusul terbitnya majalah The Herald, edisi Melayu, yang menggunakan kata “Allah”.

Buntut dari keputusan PT adalah terjadinya aksi penyerangan dan perusakan terhadap sejumlah bangunan gereja oleh kelompok yang bersikukuh bahwa umat Kristen tidak boleh menggunakan kata “Allah”.

Demikian penggalan yang kita baca dalam tajuk rencana Kompas (Selasa, 12/1/2010). Bagi penulis, masalah ini bukan hanya mencoreng wajah Malaysia, negeri yang dikenal sebagai multietnik dan multirasial, sebagaimana dikatakan dalam tajuk itu, tetapi juga sesungguhnya sangat mencoreng wajah umat Islam secara keseluruhan.

Apa yang dipertontonkan kepada dunia oleh mungkin sekelompok kecil umat Islam di Malaysia, jelas adalah suatu bentuk ketidakdewasaan beragama, atau kalau mau kita katakan ketidakpahaman umat Islam akan agamanya sendiri.

Karena itu jelas sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang termaktub dalam Alquran dan juga hak asasi manusia. Boleh jadi negara-negara Arab/Timur Tengah sendiri, tempat semua agama samawi muncul, akan mencibir hal ini. Bahwa betapa pemahaman sebagian umat Islam akan ajaran agamanya masih sangat minim.

Sebagian kita mengira bahwa apa yang kita pahami itulah yang benar dan kemudian berusaha keras memperjuangkannya, bahkan kalau perlu dengan melabrak apa yang dianggap dapat mencederai agamanya, padahal sesungguhnya hal itu malah sangat bertentangan dengan prinsip fundamental Islam itu sendiri.

Penggunaan kata “Allah” misalnya, yang menjadi pokok masalah munculnya perusakan itu, sebagian kita mengira bahwa kata itu adalah hak prerogatif kita, umat lain tidak boleh menggunakannya. Padahal dari sejarah kita tahu bahwa justru umat lainlah sesungguhnya yang lebih dulu menggunakan kata “Allah” dari kita.

Bahkan jangankan Kristen dan Yahudi, kaum kafir Jahiliyah yang jelas-jelas menyembah berhala pun di zaman Nabi juga menggunakan kata ini. Kita bisa baca sangat jelas Alquran dalam seabrek ayatnya memberitahu kita tentang hal ini.

Boleh jadi, karena umat Kristiani di kawasan Asia misalnya menerima dan menganut agama Kristen lewat orang-orang Barat, maka penyebutan kata “Allah” itu menjadi “Alah” sesuai dengan lidah orang Barat yang pertama kali menyampaikannya. Dan itu kemudian yang diwarisi secara turun-temurun di negeri kita. Kalau kemudian mereka mau mengembalikan ke kata yang lebih tepat menurut mereka, mengapa kemudian sebagian kita berkeberatan?

Mengapa seakan bila kata ini digunakan oleh mereka, kita merasa agama kita seakan menjadi terciderai? Mengapa kita tidak mencoba melihatnya secara lebih positif? Bukankah justru dengan pengembalian nama itu, maka itu berarti bahwa justru itulah yang lebih baik dan lebih Qurani (sesuai dengan pemakaian Alquran)?

Atau jangan-jangan kita hanya lancar doang baca Alquran tapi kita sama sekali tidak menyelami lebih jauh isinya? Penulis jadi ingat ketika Gus Dur mengatakan, “Apa Majelis Ulama tidak baca Quran, ketika majelis ulama mengharamkan ucapan selamat natal kepada umat Kristiani? Padahal Alquran sangat jelas memberikan informasi bahwa Nabi Isa sendiri mengatakan itu atas dirinya?”

Allah, Nama Zat Tuhan

Kata atau nama “Allah” adalah nama Zat Tuhan. Para sufi mengatakan bahwa nama ini adalah nama paling agung, yang mencakup seluruh nama-nama Allah yang lain. Ini artinya bahwa menzikirkan nama ini sama artinya dengan menzikirkan seluruh asma Allah yang lain. Seluruh sifat kesempurnaan tercakup dalam nama ini.

Sebagai Zat Yang Maha Sempurna, tentu Dia ingin seluruh makhluk-Nya mengenal-Nya. Keinginan ini jangan lalu diartikan bahwa Allah sesungguhnya “butuh” kepada makhluk-Nya, karena bagaimana mungkin Allah butuh terhadap apa yang Dia ciptakan dan apa yang diciptakan-Nya itu juga sekaligus menjadi milik-Nya sendiri?

Keinginan dari-Nya itu semata untuk kesempurnaan diri makhluk itu sendiri. Dalam sebuah hadis Qudsi dikatan, “Kuntu kanzan makhfiyyan, faahbabtu ‘an u’rafa, fa khalaqtu al-khlaqa fa bi ‘arafuni” (Aku adalah harta terpendam, Aku cinta untuk dikenal, maka Aku ciptakan makhluk yang dengan-Nya mereka mengenal-Ku).

Tentu keinginan-Nya untuk dikenal mencakup yang pertama sekali dan paling urgen adalah mengenal nama zat-Nya, yaitu “Allah”, kemudian mengenal sifat-sifat-Nya, dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata.

Dari sini, bukankah akan menjadi sangat lucu jika kemudian ada sekelompok dari makhluk-Nya melarang penggunaan nama-Nya itu untuk makhluk-Nya yang lain, sementara Dia sendiri sangat menginginkan diri-Nya untuk dikenal demi kesempurnaan diri makhluk itu sendiri?

Tentu kita mengecam, menyayangkan, dan miris dengan perlakuan sebagian saudara kita yang merusak gereja di negara jiran tersebut. Kita juga tentu sangat tidak mengharapkan perlakuan itu kembali terulang di negeri kita jika umat Kristiani di sini meminta hak yang sama. Karena, dilihat dari sudut mana pun, rasanya tidak ada ruang dan celah untuk membenarkan tindakan tersebut.

Apalagi kita ketahui, dalam kondisi perang pun, kita sama sekali tidak dibenarkan menghancurkan tempat-tempat ibadah. Inilah etika perang yang diajarkan Islam kepada kita. Kita berharap pemerintah Malaysia dapat bertindak keras terhadap siapa pun yang melakukan perusakan tersebut. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Oleh: Salahuddin (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar)

sumber : http://www.fajar.co.id/index.php?option=news&id=78984

Entry filed under: Berita. Tags: , , , .

Kantor pengacara Gereja Katolik di Malaysia dibobol Pendeta Socratez Belum Tahu Bukunya Dilarang Beredar

3 Comments Add your own

  • 1. augusty ugeng  |  January 15, 2010 at 10:05 pm

    “Saya amat berterima kasih atas pandangan Bapak yang demikian itu. Seandainya umat Islam sama seperti Bapak, betapa indahnya dunia ini karena dinaungi dengan cinta. Sekali lagi, terima kasih. Tuhan memberkati Bapak dan keluarga selalu.”

    Reply
  • 2. christian  |  January 16, 2010 at 4:50 am

    @augusty ugeng

    terima kasih atas kunjungannya 0_o

    ya..semoga hal seperti ini tidak terjadi lagi. kita semua hendaknya hidup berdampingan dengan damai.

    God Bless

    Reply
  • 3. Daniel  |  February 18, 2010 at 4:18 am

    Terimakasih buat semuanya….

    Pak Salahuddin…
    trimakasih buat pandangan bpk..
    saya sarankan bpk boleh menulis padangan bpk dlm sebuah buku,,krn sbgian besar saudara kita membutuhkan itu…

    Semangat Indeonesia…!!
    Majulah!! jgn asyik berantam yang ga perlu…

    Tuhan Pencipta langit memberkati indonesia dan kita semua…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Silahkan kunjungi website baru kami YesusCintaIndonesia.com

Categories


%d bloggers like this: