Archive for February, 2010

20 Orang Pendeta Gereja Terang Dunia Dilantik di Nias dan Kota Gunungsitoli

Gunungsitoli – Ketua Pengurus Pusat Gereja Terang Dunia (GTD), Pdt Banginda Nainggolan STh MA mengajak Umat GTD untuk lebih mempedomani karya Tuhan, karena anak manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang.

“Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu dan barang siapa ingin menjadi yang ketermuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semua umatnya,” kata Pdt Banginda Nainggolan STh MA saat menyampaikan renungan sebelum pelantikan 20 Pendeta GTD di Aula Hotel Dian Otomosi Jalan Yos Sudarso Gunungsitoli, Minggu (15/2).

Sebelumnya, mewakili Kepala Kanwil Departemen Agama F Zega mengatakan, Gereja Terang Dunia saat ini kedudukannya telah sejajar dengan kedudukan gereja-gereja lain di Indonesia. Kepada semua pihak diharapkan untuk saling menghormati dan menjujung tinggi hak-hak beribadah antara agama yang satu dengan yang lainnya.

Secara terpisah, Pendeta utama Pdt Arifeli Zega SH STh pada laporannya mengatakan pelantikan pertama bagi 6 pengurus wilayah Nias dan Pemko Gunungsitoli, kemudian dilanjutkan pengukuhanya 8 orang pendeta Inti dan 9 orang pendeta muda ditambah 28 orang Gembala sidang serta 13 orang Evangelis GTD Nias dan Kota Gunungsitoli.

Disebutkannya, visi GTD adalah mengakui Yesus Kristus satu-satunya jalan kebenaran dan hidup serta Misi GTD adalah menerangi jiwa-jiwa yang hidup dalam kegelapan supaya datang kepada terang Kristus sehingga mendapat kesembuhan jiwa dari kegersangan hidup dan dari segala penderitaan hidup ke dalam terang Tuhan.

Ditambahkannya, berbagai program jangka pendek maupun jangka panjang akan segera dilaksanakan, seperti dalam waktu dekat ini akan diberikan penataran kepada para pelayan dilanjutkan pelaksanaan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang pembawa khotbahnya pendeta dari negara Swedia dan ini pertama kali di Nias dan Kota Gunungsitoli.

Saat ini kata Pdt Arifeli Zega, GTD mempunyai sekitar 4000 orang umat tersebar di dua kabupaten Nias dan Kota Gunungsitoli, dan acara pengukuhan pendeta inti dan pendeta muda tersebut dihadiri pengurus wilayah pusat GTD, masing-masing Pdt Banginda Nainggolan STh MA, Pdt Erikson Simamora dan Pdt Fagondri Gulo STh.

Sedangkan pengurus wilayah GTD Kota Gunungsitoli dan Nias yakni ketua Anotona Zalukhu, wakil ketua Pdt Haogoli Harefa, sekretaris Pdt Faoli Zega, Wakil sekretaris Pdm Yulianus Gulo SE, Bendahara Pdt Maretieli Zega dan Wakil bendahara Pdm Indrus Zega dan 8 Pendeta inti, 9 Pendeta muda, 28 orang Gembala sidang dan 13 orang Evangelis, lapor Zega.

sumber : hariansib.com

February 17, 2010 at 9:26 pm 1 comment

Massa Segel Gereja GPIB Galaxi Bekasi

Bekasi – Sejumlah organisasi massa (ormas) Islam, Senin (15/2) siang, memprotes dan menyegel pembangunan Gereja GPIB di RW 05/17 Perumahan Taman Galaxy, Kelurahan Jakasetia, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi.

Hingga berita ini dilaporkan, penyegelan sedang berlangsung dengan membentangkan kain sepanjang 50 meter yang isinya menolak pembangunan gereja tersebut.

Kain tersebut bertuliskan berbagai protes terhadap pembangunan gereja itu, dipasang sekeliling tembok gereja. Selain itu, penghapusan papan nama gereja dan pengibaran bendera sejumlah ormas Islam di lokasi bangunan juga dilakukan. Penyegelan dilakukan dengan alasan bahwa Gereja GPIB tersebut belum menyelesaikan surat izin mendirikan bangunan (IMB) dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi.

Seperti diketahui, Gereja GPIB ini, salah satu dari tujuh gereja yang berada di lokasi itu. Massa juga menempelkan surat teguran yang ditandatangani Camat Bekasi Selatan, Hudi Wijayanto terkait pembangunan gereja tersebut. Sambil berorasi, massa menyatakan, dari sejumlah gereja di lokasi itu terdapat beberapa gereja yang belum memiliki IMB, termasuk GPIB yang kini tengah dalam tahap pembangunan dua lantai.

Di antara isi surat Camat Bekasi Selatan yang dilaminating dan ditempelkan massa di bangunan gereja itu bertuliskan.

“Pihak panitia pembangunan gereja untuk tidak melaksanakan kegiatan sebelum menyelesaikan perizinan dari Pemkot Bekasi.”

Surat itu merupakan lembar kelima yang ditempelkan terkait surat camat kepada pihak panitia pembangunan gereja.

Rupanya, pihak gereja membangun tempat ibadah sebelum melengkapi perizinan sehingga camat setempat memberi teguran. Surat teguran pada halaman kelima itulah yang ditempelkan massa.

Pihak gereja yang ditemui tidak ada di lokasi. Tetapi, beberapa tukang yang sedang bekerja terpaksa menghentikan kegiatan mereka setelah puluhan massa mendatangi bangunan itu.

Sebagaimana diketahui, penolakan terhadap gereja di Kabupaten dan Kota Bekasi, sejak akhir 2009 lalu, sudah berlangsung beberapa kali. Pertama, penolakan dialami umat Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Philadelpia di Desa Jelajen Jaya Kecamatan Tambun Utara.

Kemudian, dilanjutkan dengan protes sejumlah massa ke Gereja HKBP Pondok Timur di Kecamatan Mustika Jaya Kota Bekasi dan kali ini berlanjut di Gereja GPIB Galilea di Perumahan Taman Galaxy Kota Bekasi.

sumber : hariansib.com

February 16, 2010 at 11:49 am 11 comments

Gereja Australia Sesalkan Pembakaran Gereja di Padang Lawas

Pematansgiantar – Sekjen Lutheran Church Of Australia (LCA), Rev Neville Otto, mengatakan sangat menyesalkan dan menyayangkan terjadinya pembakaran gereja di Padang Lawas, Sumatera Utara. Selaku orang Kristen dia tidak mau jika ada orang yang tersakiti.

Hal itu dikatakannya kepada SIB, Selasa (9/2) di sela-sela Rapat Konsultasi Gereja LCA dengan Gereja Lutheran di Sumut, di Restorant Internasional, Jalan Gereja Pematangsiantar. Karena belum dapat informasi yang formal dari gereja yang bersang-kutan (gereja yang dibakar), maka kami belum tau apa yang dapat kami bantu.

Satu hal yang pasti, doa akan memberikan kekuatan bagi kita dalam mengatasi peristiwa tersebut. LCA juga berdoa untuk seluruh masyarakat Indonesia , katanya seraya menyebut LCA berkeinginan mendengar lang-sung dari yang bersangkutan bentuk bantuan apa yang akan dibutuhkan. Selanjutnya dikatakan bahwa selaku orang Kristen, LCA tidak menginginkan ada orang yang tersakiti, karena kita hidup di dunia ini dengan harmonis, tapi kita tidak melihat siapa yang membakar gereja tersebut, tapi kita mengharapkan tidak seorang-pun yang tersakiti dalam peristiwa itu.

Menjawab pertanyaan SIB, apakah peristiwa pembakaran gereja juga pernah terjadi di Australia , Otto menyebut, tidak pernah karena merupakan satu hal yang sulit jika gereja dibakar. Jika terjadi pembakaran Gereja, itu berarti tidak ada damai dan keharmonisan.

Kita harapkan, supaya orang Kristen di Indonesia bisa menun-jukkan kepada khalayak ramai bahwa kita bisa menciptakan suasana yang damai, karena kita percaya bahwa Allah itu Kasih dan kita orang Kristen tetap ber-tanggungjawab menjadi saksi Kristus dan bertanggungjawab bahwa Allah itu baik dan Allah itu Kasih.

Hukuman apa yang pantas bagi pelaku pembakaran gereja, tanya SIB, dengan diplomasi Otto mengatakan bahwa Undang-undang di Indonesia sudah mengatur tentang itu. Otto juga yakin bahwa Undang-undang yang berlaku di Indonesia pasti berpihak kepada sesuatu yang benar.
Di akhir pembicaraan, Otto menginginkan bahwa dalam beberapa hari ini termasuk dalam pertemuan dengan Gereja-gereja Lutheran di Sumut, LCA lebih banyak mendengar informasi secara luas dan langsung dari Pimpinan Gereja mitra LCA tentang pembakaran. Usai Rapat Konsultasi itu, rombongan dari LCA akan melakukan kunjungan ke beberapa gereja. Harapan mereka, ketika berkunjung ke HKBP (salah satu gereja yang dibakar di Padang Lawas), LCA akan dapat informasi yang luas tentang pembakaran, katanya seraya menyebut LCA akan membantu apa yang dibutuhkan jika sudah mendapat informasi yang jelas.

sumber : hariansib.com

February 16, 2010 at 11:45 am Leave a comment

Kaiserea Gelar Pengobatan Gratis

Jemaat Kaiserea BTN Kolhua memeriksa kesehatan, Minggu (14/2/2010).

KUPANG — Dalam rangka memperingati hari raya Paskah, pengurus Gereja Kaiserea BTN Kolhua menyelenggarakan pengobatan gratis. Kegiatan yang bertempat di gedung TKK Kaiserea, Minggu (14/2/2010), tidak saja diikuti jemaat Kaiserea tetapi warga BTN Kolhua pada umumnya.

Ketua panitia pelaksana, P. Tambunan menjelaskan,  pengobatan gratis ini dilaksanakan atas kerja sama Jemaat Kaiserea dengan Dinas Kesehatan Kota Kupang. Dalam pengobatan ini melibatkan beberapa orang dokter ahli kebidanan, penyakit dalam, dokter THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan) dan dokter umum.

Tambunan menjelaskan, jemaat  yang ikut mendapatkan pengobatan gratis, antara lain dari wilayah  Kelurahan Maulafa, Jemaat Betsheda, Jemaat Tamariska, Jemaat Imanuel- Kolhua, Jemaat Sesawi, Jemaat Salom dan umat Gereja St. Fransiskus Asisi. Total yang mendapat pelayaan sekitar 500 orang lebih.

“Saya mengharapkan para jemaat bisa memanfaatkan pelayanan  kesehatan gratis untuk memeriksakan kesehatannya,” katanya.

sumber : pos-kupang.com

February 15, 2010 at 4:19 am 1 comment

Jasad Santo Antonius dari Padua Dipamerkan

Sejumlah biarawan Fransiskan memanggul peti kaca berisi jasad Santo Antonius dari Padua ke dalam sebuah ruang di Basilika Santo Antonius, Minggu (14/2/2010) waktu setempat.

PADUA — Kerangka tubuh dari Fernando Martins de Bulhoes atau yang lebih dikenal sebagai Santo Antonius dari Padua sejak Minggu (14/2/2010) dipamerkan di Basilika Santo Antonius, Padua, di Utara Italia.

Sisa jenazah yang diletakkan di dalam peti kaca tersebut akan dipamerkan kepada publik hingga Sabtu (20/2/2010). Terakhir kali jenazah Santo Antonius dari Padua dipamerkan pada tahun 1981. Kala itu peziarah dari penjuru dunia datang dan berdoa di sisi sisa tubuh orang suci itu.

Santo adalah sebutan untuk orang suci dalam tradisi Gereja Katolik. Proses pengukuhannya sebagai santo oleh otoritas Gereja Katolik tercatat paling cepat, yaitu 352 hari setelah kematiannya. Antonius dari Padua lahir pada 15 Agustus 1195 di Lisabon, Portugal, dan wafat pada 23 Juni 1231. Selanjutnya, pada Hari Raya Pentakosta, 30 Mei 1232, Paus Gregorius IX menetapkannya sebagai santo.

Semasa hidupnya, Antonius yang bergabung sebagai biarawan Fransiskan (pengikut Santo Fransiskus dari Asisi) dikenal sebagai pengkhotbah ulung. Menurut legenda, ikan-ikan di danau pun bersembulan keluar untuk mendengar khotbahnya. Sebagai orang suci, Gereja Katolik juga menetapkannya sebagai pelindung barang-barang yang hilang.

sumber : kompas.com

February 15, 2010 at 2:50 am 2 comments

PGI Dukung Pencabutan UU Penodaan Agama

Jakarta (SIB) – Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) menegaskan sikapnya mendukung pencabutan Undang-Undang No 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Alasannya, masalah penodaan agama bukan urusan agama.

“Penanganan masalah penodaan agama adalah suatu tugas pastoral, tidak dengan menggunakan kekuasaan negara,” tegas Ketua Umum PG AA Yewangoe dalam Refleksi Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) tentang Kebebasan Beragama, di Jakarta, Jumat (12/2).

Gugatan UU Penodaan Agama sedang dalam persidangan uji materi di Mahkamah Konstitusi (MK). Sejumlah LSM yang mengajukan gugatan tersebut mendesak agar UU tersebut dicabut.
Dia mengatakan, cara-cara negara menangani kasus penodaan agama sangat represif dan intimidasi. Ini menunjukkan pemerintah tidak memahami kewajibannya konstitusinya untuk melindungi umat beragama.

Dicontohkan, PGI membela kasus Ahmadiyah karena berpandangan dengan masalah ini bukan masalah agama, tapi seharusnya dilihat dari sudut kebebasan beragama. “Keyakinan tidak bisa diadili. Jika negara terus membiarkan tindakan intimidasi adalah sebuah extraordinary crime, pemerintah tunduk pada intimidasi, bukan pada konstitusi,” tegas Yewangoe.

Menurutnya, selama relasi agama dan negara tidak terumus dengan baik, akan terus menghadapi persoalan ke masa depan. Seharusnya, pemerintah mempertanyakan mengapa ajaran sesat muncul. Hal ini terjadi, lanjut Yewangoe, karena kelabilan di masyarakat dan agama. Saat agama beku, tidak mampu merevitalisasi dirinya. Disamping itu, krisis di masyarakat. Situasi ini yang kemudian memunculkan Sekte Lia Eden.

KEKERASAN
Sementara itu, Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace ICRP Siti Musdah Mulia menegaskan adanya eskalasi kekerasan terhadap kebebesan beragama. Selama Januari 2010 saja, setidaknya ada 20 kasus perusakan rumah ibadah. Selain itu, Perda Diskriminasi Umat Beragama semakin banyak terjadi di Indonesia.

“Pemerintah harus bisa menuntaskan terjadinya kekerasan terhadap kebebasan beragama karena ini merupakan fundamental demokrasi,” tegas Murdah yang juga anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Dia menekankan, UU Penodaan Agama memberi kewenangan kepada pemerintah untuk menentukan mana yang salah dan benar. “Kewenangan itu membuat negara jadi super-Tuhan. Kalau ada yang memperjuangkan kebebasan beragama, dianggap memutarbalikkan identitas agama,” lanjut Musdah.

Dikemukakan, kebebasan beragama merupakan hak setiap orang. Negara tidak bisa campur tangan. Campur tangan pemerintah bersifat netral, yakni untuk melindungi umat beragama.

sumber : hariansib.com

February 15, 2010 at 2:48 am Leave a comment

16 Ormas Islam Bekasi Menyegel Gereja Galilea

Bekasi (ANTARA News) – Ratusan umat muslim yang berasal dari 16 Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam di wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, akan menutup paksa aktifitas peribadahan umat kristiani di Gereja Galileo, Perumahan Taman Galaxy, Kelurahan Jaka Setia, Kecamatan Bekasi Selatan.

“Kagiatan ini akan kami lakukan, Senin (15/2), mulai pukul 08:00 WIB. Karena keberadaannya sudah sangat meresahkan warga setempat yang mayoritasnya beragama muslim,” ujar Ketua Front Pembela Islam (FPI) Bekasi Raya, Murhali Barda, kepada ANTARA, di Bekasi, Minggu.

Menurut Murhali, keresahan warga muslim sekitar terhadap keberadaan Gereja yang berlokasi di lingkungan Pulau Minas, Perumahan Villa Galxy tersebut karena munculnya dugaan upaya Kristenisasi dari pihak pengelola Gereja.

“Laporan dari beberapa jemaah kami menyebutkan, internal Gereja kerap menggelar pembagian Sembako murah namun dengan embel-embel mengakui Yesus sebagai Tuhan mereka. Hal itu saya nilai sebagai pelanggaran,” katanya.

Selain itu, kata dia, di kawasan itu telah berdiri sedikitnya enam Gereja dan sejumlah rumah tempat tinggal yang fungsinya dialihkan menjadi tempat beribadah. “Pada malam hari, pujian terhadap Tuhan mereka dalam bentuk nyanyian mengganggu waktu beristirahat warga,” katanya.

Murhali mengaku yakin, sejumlah perizinan pembangunan Gereja tersebut belum sepenuhnya lengkap. Alasannya, sebagian besar masyarakat setempat belum memberikan izin penggunaan lahan. “Buktinya, sampai sekarang masih banyak spanduk penolakan warga yang terpasang di sejumlah gang dan kawasan pusat keramaian terhadap pendirian bangunan tersebut,” ujar Murhali.

Berdasarkan situasi ini, kata dia, Dewan Dakwah Bekasi (DDB) bersama dengan Ormas Islam lainnya menyampaikan pernyataan sikap, yakni memprotes keras pendirian Gereja Galilea dan mendesak pihak-pihak yang berwenang seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Pemerintah setempat agar dengan tegas menutup aktivitas itu sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) dua Menteri tahun 2007 tetang pendirian rumah ibadah.

“Dalam SKB antara Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri dikatakan, pendirian rumah ibadah minimal harus memiliki 60 persen persetujuan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Dikatakan Murhali, ratusan massa yang rencananya akan melakukan penyegelan Gereja Galilea berasal dari Dewan Dakwah Bekasi, Dewan Dakwah Kecamatan Cabang Bungin, Masyarakat Muara Gembong, Bina An Nisa Dewan Da?wah Bekasi, Irene Centre, Majelis Mujahidin Indonesia(MMI).

“Forum Silaturahmi Masjid dan Mushala Galaxi, Front Pembela Islam(FPI), Forum Remaja Islam Medan Satria, FKUB, Persatuan Islam (PERSIS), Komite Penegak Syariah (KPS), Muhammadiyah, Gerakan Pemuda Islam(GPI), Masyarakat Peduli Syariah (MPS), dan Gabungan Remaja Islam (GARIS),” ujarnya.

Sementara itu pihak pengelola Gereja Galilea belum dapat memberikan komentar apa pun terkait situasi ini. Kendati demikian, salah seorang petugas kemanan setempat mengaku telah mengetahui adanya rencana tersebut. Sejumlah polisi juga tampak berjaga-jaga di sekitar lokasi.

Secara terpisah, Kasat Reskrim Polrestro Bekasi, Kompol Budi Sartono, mengimbau kepada demonstran untuk menjalankan aksinya secara tertib tanpa perlu melakukan anarki. Pihaknya tidak akan mentolerir oknum masyarakat yang terbukti kuat melakukan tindakan provokasi hingga menyebabkan anarki.

“Bila terdapat kekurangan, mari kita perbaiki secara kekeluargaan. Polisi bersama dengan pemerintah selalu terbuka untuk melakukan penyempurnaan berbagai pandangan yang kita anut bersama,” ujarnya.

sumber : antara.co.id

February 15, 2010 at 2:45 am 3 comments

Older Posts Newer Posts


Categories


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.