Archive for February, 2010

Kaiserea Gelar Pengobatan Gratis

Jemaat Kaiserea BTN Kolhua memeriksa kesehatan, Minggu (14/2/2010).

KUPANG — Dalam rangka memperingati hari raya Paskah, pengurus Gereja Kaiserea BTN Kolhua menyelenggarakan pengobatan gratis. Kegiatan yang bertempat di gedung TKK Kaiserea, Minggu (14/2/2010), tidak saja diikuti jemaat Kaiserea tetapi warga BTN Kolhua pada umumnya.

Ketua panitia pelaksana, P. Tambunan menjelaskan,  pengobatan gratis ini dilaksanakan atas kerja sama Jemaat Kaiserea dengan Dinas Kesehatan Kota Kupang. Dalam pengobatan ini melibatkan beberapa orang dokter ahli kebidanan, penyakit dalam, dokter THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan) dan dokter umum.

Tambunan menjelaskan, jemaat  yang ikut mendapatkan pengobatan gratis, antara lain dari wilayah  Kelurahan Maulafa, Jemaat Betsheda, Jemaat Tamariska, Jemaat Imanuel- Kolhua, Jemaat Sesawi, Jemaat Salom dan umat Gereja St. Fransiskus Asisi. Total yang mendapat pelayaan sekitar 500 orang lebih.

“Saya mengharapkan para jemaat bisa memanfaatkan pelayanan  kesehatan gratis untuk memeriksakan kesehatannya,” katanya.

sumber : pos-kupang.com

February 15, 2010 at 4:19 am 1 comment

Jasad Santo Antonius dari Padua Dipamerkan

Sejumlah biarawan Fransiskan memanggul peti kaca berisi jasad Santo Antonius dari Padua ke dalam sebuah ruang di Basilika Santo Antonius, Minggu (14/2/2010) waktu setempat.

PADUA — Kerangka tubuh dari Fernando Martins de Bulhoes atau yang lebih dikenal sebagai Santo Antonius dari Padua sejak Minggu (14/2/2010) dipamerkan di Basilika Santo Antonius, Padua, di Utara Italia.

Sisa jenazah yang diletakkan di dalam peti kaca tersebut akan dipamerkan kepada publik hingga Sabtu (20/2/2010). Terakhir kali jenazah Santo Antonius dari Padua dipamerkan pada tahun 1981. Kala itu peziarah dari penjuru dunia datang dan berdoa di sisi sisa tubuh orang suci itu.

Santo adalah sebutan untuk orang suci dalam tradisi Gereja Katolik. Proses pengukuhannya sebagai santo oleh otoritas Gereja Katolik tercatat paling cepat, yaitu 352 hari setelah kematiannya. Antonius dari Padua lahir pada 15 Agustus 1195 di Lisabon, Portugal, dan wafat pada 23 Juni 1231. Selanjutnya, pada Hari Raya Pentakosta, 30 Mei 1232, Paus Gregorius IX menetapkannya sebagai santo.

Semasa hidupnya, Antonius yang bergabung sebagai biarawan Fransiskan (pengikut Santo Fransiskus dari Asisi) dikenal sebagai pengkhotbah ulung. Menurut legenda, ikan-ikan di danau pun bersembulan keluar untuk mendengar khotbahnya. Sebagai orang suci, Gereja Katolik juga menetapkannya sebagai pelindung barang-barang yang hilang.

sumber : kompas.com

February 15, 2010 at 2:50 am 2 comments

PGI Dukung Pencabutan UU Penodaan Agama

Jakarta (SIB) – Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) menegaskan sikapnya mendukung pencabutan Undang-Undang No 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Alasannya, masalah penodaan agama bukan urusan agama.

“Penanganan masalah penodaan agama adalah suatu tugas pastoral, tidak dengan menggunakan kekuasaan negara,” tegas Ketua Umum PG AA Yewangoe dalam Refleksi Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) tentang Kebebasan Beragama, di Jakarta, Jumat (12/2).

Gugatan UU Penodaan Agama sedang dalam persidangan uji materi di Mahkamah Konstitusi (MK). Sejumlah LSM yang mengajukan gugatan tersebut mendesak agar UU tersebut dicabut.
Dia mengatakan, cara-cara negara menangani kasus penodaan agama sangat represif dan intimidasi. Ini menunjukkan pemerintah tidak memahami kewajibannya konstitusinya untuk melindungi umat beragama.

Dicontohkan, PGI membela kasus Ahmadiyah karena berpandangan dengan masalah ini bukan masalah agama, tapi seharusnya dilihat dari sudut kebebasan beragama. “Keyakinan tidak bisa diadili. Jika negara terus membiarkan tindakan intimidasi adalah sebuah extraordinary crime, pemerintah tunduk pada intimidasi, bukan pada konstitusi,” tegas Yewangoe.

Menurutnya, selama relasi agama dan negara tidak terumus dengan baik, akan terus menghadapi persoalan ke masa depan. Seharusnya, pemerintah mempertanyakan mengapa ajaran sesat muncul. Hal ini terjadi, lanjut Yewangoe, karena kelabilan di masyarakat dan agama. Saat agama beku, tidak mampu merevitalisasi dirinya. Disamping itu, krisis di masyarakat. Situasi ini yang kemudian memunculkan Sekte Lia Eden.

KEKERASAN
Sementara itu, Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace ICRP Siti Musdah Mulia menegaskan adanya eskalasi kekerasan terhadap kebebesan beragama. Selama Januari 2010 saja, setidaknya ada 20 kasus perusakan rumah ibadah. Selain itu, Perda Diskriminasi Umat Beragama semakin banyak terjadi di Indonesia.

“Pemerintah harus bisa menuntaskan terjadinya kekerasan terhadap kebebasan beragama karena ini merupakan fundamental demokrasi,” tegas Murdah yang juga anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Dia menekankan, UU Penodaan Agama memberi kewenangan kepada pemerintah untuk menentukan mana yang salah dan benar. “Kewenangan itu membuat negara jadi super-Tuhan. Kalau ada yang memperjuangkan kebebasan beragama, dianggap memutarbalikkan identitas agama,” lanjut Musdah.

Dikemukakan, kebebasan beragama merupakan hak setiap orang. Negara tidak bisa campur tangan. Campur tangan pemerintah bersifat netral, yakni untuk melindungi umat beragama.

sumber : hariansib.com

February 15, 2010 at 2:48 am Leave a comment

16 Ormas Islam Bekasi Menyegel Gereja Galilea

Bekasi (ANTARA News) – Ratusan umat muslim yang berasal dari 16 Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam di wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, akan menutup paksa aktifitas peribadahan umat kristiani di Gereja Galileo, Perumahan Taman Galaxy, Kelurahan Jaka Setia, Kecamatan Bekasi Selatan.

“Kagiatan ini akan kami lakukan, Senin (15/2), mulai pukul 08:00 WIB. Karena keberadaannya sudah sangat meresahkan warga setempat yang mayoritasnya beragama muslim,” ujar Ketua Front Pembela Islam (FPI) Bekasi Raya, Murhali Barda, kepada ANTARA, di Bekasi, Minggu.

Menurut Murhali, keresahan warga muslim sekitar terhadap keberadaan Gereja yang berlokasi di lingkungan Pulau Minas, Perumahan Villa Galxy tersebut karena munculnya dugaan upaya Kristenisasi dari pihak pengelola Gereja.

“Laporan dari beberapa jemaah kami menyebutkan, internal Gereja kerap menggelar pembagian Sembako murah namun dengan embel-embel mengakui Yesus sebagai Tuhan mereka. Hal itu saya nilai sebagai pelanggaran,” katanya.

Selain itu, kata dia, di kawasan itu telah berdiri sedikitnya enam Gereja dan sejumlah rumah tempat tinggal yang fungsinya dialihkan menjadi tempat beribadah. “Pada malam hari, pujian terhadap Tuhan mereka dalam bentuk nyanyian mengganggu waktu beristirahat warga,” katanya.

Murhali mengaku yakin, sejumlah perizinan pembangunan Gereja tersebut belum sepenuhnya lengkap. Alasannya, sebagian besar masyarakat setempat belum memberikan izin penggunaan lahan. “Buktinya, sampai sekarang masih banyak spanduk penolakan warga yang terpasang di sejumlah gang dan kawasan pusat keramaian terhadap pendirian bangunan tersebut,” ujar Murhali.

Berdasarkan situasi ini, kata dia, Dewan Dakwah Bekasi (DDB) bersama dengan Ormas Islam lainnya menyampaikan pernyataan sikap, yakni memprotes keras pendirian Gereja Galilea dan mendesak pihak-pihak yang berwenang seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Pemerintah setempat agar dengan tegas menutup aktivitas itu sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) dua Menteri tahun 2007 tetang pendirian rumah ibadah.

“Dalam SKB antara Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri dikatakan, pendirian rumah ibadah minimal harus memiliki 60 persen persetujuan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Dikatakan Murhali, ratusan massa yang rencananya akan melakukan penyegelan Gereja Galilea berasal dari Dewan Dakwah Bekasi, Dewan Dakwah Kecamatan Cabang Bungin, Masyarakat Muara Gembong, Bina An Nisa Dewan Da?wah Bekasi, Irene Centre, Majelis Mujahidin Indonesia(MMI).

“Forum Silaturahmi Masjid dan Mushala Galaxi, Front Pembela Islam(FPI), Forum Remaja Islam Medan Satria, FKUB, Persatuan Islam (PERSIS), Komite Penegak Syariah (KPS), Muhammadiyah, Gerakan Pemuda Islam(GPI), Masyarakat Peduli Syariah (MPS), dan Gabungan Remaja Islam (GARIS),” ujarnya.

Sementara itu pihak pengelola Gereja Galilea belum dapat memberikan komentar apa pun terkait situasi ini. Kendati demikian, salah seorang petugas kemanan setempat mengaku telah mengetahui adanya rencana tersebut. Sejumlah polisi juga tampak berjaga-jaga di sekitar lokasi.

Secara terpisah, Kasat Reskrim Polrestro Bekasi, Kompol Budi Sartono, mengimbau kepada demonstran untuk menjalankan aksinya secara tertib tanpa perlu melakukan anarki. Pihaknya tidak akan mentolerir oknum masyarakat yang terbukti kuat melakukan tindakan provokasi hingga menyebabkan anarki.

“Bila terdapat kekurangan, mari kita perbaiki secara kekeluargaan. Polisi bersama dengan pemerintah selalu terbuka untuk melakukan penyempurnaan berbagai pandangan yang kita anut bersama,” ujarnya.

sumber : antara.co.id

February 15, 2010 at 2:45 am 3 comments

Pulau-pulau Berbentuk Hati

Karang berbentuk hati di Great Barrier Reef Australia (Telegraph)

Gambar udara berikut ini menunjukkan bahwa cinta ada di mana-mana. Tak hanya di hari kasih sayang Valentine yang jatuh setiap tanggal 14 Februari. Cinta hadir sepanjang masa melalui simbol hati raksasa yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Di Jerman terdapat satu pulau menakjubkan dengan pepohonan hijau, tepatnya di Walchensee. Awan-awan dengan cantik merefleksikan permukaan danau Walchensee yang membentuk tampilan yang romantis.

Simbol cinta juga tercipta padang rumput berbentuk hati di Trittau, Jerman. Sementara ketika melintas Prancis akan terlihat daerah bekas terbakar berbentuk hati di dataran rendah the Loire River di Saint Florent Le Viell, Nantes.

Simbol cinta seakan menjadi tema yang terus berulang atas pemandangan yang terbentang. Simbol kasih sayang itu terbentang dari hutan bakau di sungai Brazil hingga pulau kecil di Polinesia Prancis.

Seperti dikutip dari laman Telegraph, cinta tumbuh melalui simbol hati raksasa yang terbentuk alami dari sebuah karang di The Great Barrier Reef, Australia.

Sebuah taman di Waltrop, Jerman, juga mengukuhkan cinta melalui desain tanaman pembingkai yang membentuk hati raksasa jika dipandang dari angkasa.

Sementara Tampilan yang paling menarik perhatian dari semua bentuk penuh cinta tersebut yakni formasi kemerahan dari alga dan jamur di Audubon Corkscrew Swamp Sanctuary, Florida.

sumber : vivanews.com

February 14, 2010 at 12:46 pm 3 comments

Meriahnya Hari Kasih Sayang di Kelapa Gading

Boneka Valentine (AP Photo/Mohammed Ballas)

Memeriahkan Valentine’s Day yang berbarengan waktunya dengan Imlek, hari ini, Sentra Kelapa Gading menyelenggarakan serangkaian hiburan dan tawaran menarik buat pengunjung.

General Manager of Corporate Communication PT Summarecon Agung Tbk Cut Meutia mengatakan dalam memeriahkan Valentine’s Day 14 Februari 2010, tepat pukul 19.00, La Piazza menyelenggarakan Spread The Love with Splendid Dining.

Untuk setiap table set  yang disiapkan La Piazza, kata Meutia, pengunjung akan dihibur penampilan artis Rio Febrian dan Ressa Herlambang feat. Gelombang Band. ”Sebelum mereka tampil, lebih dulu tampil Hitrow Band,” kata Meutia.

Meutia menjelaskan dengan membayar Rp 120.000 per pasangan, pengunjung akan mendapatkan Chocolate Hampers, Cute Teddy Bear dan Voucher Makan di La Piazza senilai Rp 20.000.

Sementara itu dalam menyambut Imlek, Sentra Kelapa Gading mengangkat tema Journey to Prosperity.

Program yang dimulai akhir Januari 2010 hingga 16 Februari 2010  ini, dipusatkan di Mal Kelapa Gading (MKG), Gading Food City (GFC) dan juga La Piazza yang terintergrasi dalam kawasan terpadu Sentra Kelapa Gading.

Dalam program ini, kata Meutia, pengunjung yang berbelanja dengan nilai tertentu (MKG minimum Rp 750 ribu, La Piazza minimum Rp 300 ribu, GFC minimum Rp 100 ribu, dan terlebih khusus pemegang kartu kredit HSBC di MKG belanja hanya senilai Rp 500 ribu) berkesempatan mengikuti program “Lucky Treasure Coin” yang berhadiah langsung handphone, DVD player, voucher makan dan lain-lain.

Berbagai hiburan dan pameran khas Imlek pun tentunya bisa ditemui pengunjung setia Sentra Kelapa Gading disini. Mulai dari atraksi Barongsai Lantai, Barongsai Patok Besi, Chinese Music Harmony, Vidi Aldiano, Fendy Chow, Petra Sihombing dan banyak lagi hiburan menarik lainnya.

Sementara itu, untuk pengunjung yang sangat menjunjung tinggi nilai keluarga dan ingin merayakan Imlek-nya bersama dengan keluarga besarnya, pada 13 Februari 2010, mulai pukul 18.00 WIB, La Piazza juga menyediakan table set khusus keluarga dengan memberikan paket makan,  yaitu paket makan keluarga senilai Rp 1.888.000 net/10 orang atau Rp 2.388.000 net/10 orang.

sumber : vivanews.com

February 14, 2010 at 12:38 pm Leave a comment

Puluhan Pendonor Darah Ramaikan ‘Bloody Valentine’

Jakarta – Suasana guyub terlihat di ruang donor darah Palang Merah Indonesia Jakarta Pusat, Ahad (14/2) sore. Belasan calon pendonor darah di ruang itu, tampak saling berkenalan dan bertukar informasi, meski sebenarnya mereka berasal dari komunitas yang sama: situs kaskus.us.

“Kami baru kopi darat sekaligus charity (beramal) di PMI,” kata Eva, salah satu anggota Kaskus Indonesian Traveller (KIT), salah satu grup yang terbentuk dari situs komunitas tersebut.

‘Bloody Valentine’ adalah nama acara donor darah bersama di PMI dalam rangka Valentine atau hari kasih sayang. Penggagas kegiatan ini bukan KIT, melainkan sebuah komunitas pengguna layanan internet sebuah operator seluler. “Kegiatan ini sudah dua kali kami lakukan,” kata Adi Pamungkas, ketua komunitas tersebut.

Adi lantas mengajak kawan-kawan KIT untuk mengikuti ‘Bloody Valentine’. “Kami mengajak KIT lewat milis, seminggu lalu,” ujar Adi.

Menurut penanggung jawab kegiatan ‘Bloody Valentine’, Hari, baru kali ini KIT mengikuti aksi sosial. “Karena biasanya kami kumpul untuk travelling, bukan untuk kegiatan sosial,” aku Hari.

Menurut Hari, rencananya ada puluhan anggota KIT yang akan berpartisipasi dalam ‘Bloody Valentine’. “Yang sudah daftar ke saya dan datang ke lokasi ada 30 orang. Tapi tidak menutup kemungkinan akan ada lebih banyak anggota KIT yang datang,” ujar Hari.

Heni, petugas PMI bagian penyadapan darah, mengaku hari ini jumlah pendonor darah lebih banyak dari biasanya. “Sejak pagi, sudah ada lebih dari 120 orang yang mendonor,” kata dia. Ia mengatakan jumlah itu meningkat salah satunya karena kegiatan ‘Bloody Valentine’.

sumber : tempointeraktif.com

sumber :

February 14, 2010 at 12:30 pm Leave a comment

Mahfud: MK Serius Kaji UU Penodaan Agama

Mahfud MD (inilah.com/Agus Priatna)

Surabaya – Mahkamah Konstitusi (MK) menjamin akan mengkaji Undang-undang (UU) Nomor 1/PNPS/1965 tentang penodaan agama secara serius. Tanpa harus mempertimbangkan keberpihakan dengan lainnya.

“Percayakan kepada kami, kami tidak akan serampangan membahas undang-undang ini, dan oleh karena itu kami mengundang 60 ahli pada setiap hari Rabu untuk mengkaji undang-undang tersebut, sejak Februari hingga April 2010,” tutur Ketua MK M Mahfud MD di Surabaya, Sabtu (13/2).

Setelah memberi pembekalan pada wisuda sarjana, magister, dan doktor serta pengukuhan guru besar di Universitas Tujuhbelas Agustus 1945 (Untag) Surabaya, ia mengatakan salah satu ahli yang diundang berasal dari Amerika Serikat.

“Setiap Rabu kami akan mengadakan sidang khusus untuk membahas undang-undang itu, di antaranya dengan ahli HAM dan kebebasan beragama dari AS, Cole Durham melalui teleconferens (perbincangan jarak jauh),” ujar mantan Menteri Pertahanan era Gus Dur ini.

Ke-60 ahli tersebut terdiri sembilan ahli yang dihadirkan pemohon (Syamsudin Rajab dari Perhimpunan Badan Hukum Indonesia/ PBHI), 19 ahli yang dihadirkan pemerintah, 31 ahli yang diundang MK, dan Cole Durham.

MK mengundang antara lain Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), HTI, Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), Wali Buddha Indonesia (Walubi), serta Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

“Tetapi, MK juga akan mengundang ahli politik, ahli hukum, ahli pendidikan, sastrawan, agamawan, dan sebagainya. Kami juga akan mengundang Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), pendeta, pastor, dan sebagainya,” kata mantan anggota Komisi III DPR.

Sementara itu, lanjut Mahfud, ahli dari pemohon antara lain Franz Magnis Suseno, Ahmad Syafii Maarif, Sardy, dan Arswendo Atmowiloto. “Pemohon meminta Undang-undang Penodaan Agama itu dibatalkan, karena dianggap melanggar HAM, kebebasan beragama, dan tafsir keagamaan sesuai keyakinan. Jadi, kami akan mengkaji apakah enam agama resmi tersebut merupakan pelanggaran HAM, dan apakah kebebasan beragama itu termasuk kebebasan tidak beragama,” bebernya.

Dengan kajian yang serius nanti, lanjut dia, masyarakat tidak perlu melakukan demonstrasi untuk mendukung atau menolak. Karena langkah itu tidak akan ada gunanya, karena MK mendasarkan putusan pada kajian yang komprehensif, bukan mempertimbangkan unjuk rasa atau SMS protes.

Di Surabaya, Mahfud MD memberikan pembekalan di hadapan ribuan wisudawan Untag Surabaya serta kuliah umum di hadapan ahli hukum Untag Surabaya.

sumber : inilah.com

February 14, 2010 at 12:07 pm Leave a comment

Gereja Katolik St Maria de Fatima Tak Pernah Absen Rayakan Imlek

Kerukunan umat beragama begitu kental di kawasan Pecinan, Jakarta Barat. Gereja Katolik Santa Maria de Fatima, misalnya. Setiap perayaan tahun baru lunar tiba, gereja itu ikut merayakannya bersama penduduk sekitar.

SEKILAS, Gereja Katolik St Maria de Fatima di Jalan Kemenangan, Jakarta Barat, tampak seperti kelenteng. Tanda bahwa bangunan tersebut berupa gereja ditampilkan melalui tiang salib besar yang dipasang di atas genting. Nama Gereja Katolik St Maria de Fatima yang dipasang di atas pintu utama makin menegaskan status bangunan tersebut.

Gereja yang disebut juga Gereja Taosebio itu memang sedikit berbeda. Sebelumnya, gereja tersebut merupakan rumah milik seorang kapitan Tiongkok bermarga Tjioe yang dibangun awal abad ke-19. Kekunoannya membuat bangunan tersebut masuk daftar cagar budaya, sehingga tidak boleh dipugar.

Itulah yang membuat arsitektur dan interior bangunan tak banyak berubah. Detail-detail khas bangunan Tionghoa kuno yang asli masih dominan. Pada atap gereja, terdapat hiasan yang menggambarkan ian boe heng (ekor walet) yang dikawal sepasang cion sai (singa batu).

Di pelisir atap bangunan terdapat tulisan berhuruf Tiongkok berbunyi hok shau kang ning yang bermakna tempat kedamaian. Di depan halaman gereja terdapat sepasang singa batu yang merupakan ciri khas rumah bangsawan Tionghoa. Begitu kental suasana kunonya. Karena itu, memasuki gereja tersebut seolah mundur ke zaman penjajahan Belanda.

Tak hanya gaya arsitektur bangunan yang unik, aktivitas gereja yang dipimpin Pastor Guido Paolucci SX tersebut juga menarik. Terletak di kawasan pecinan, gereja yang pernah menjadi asrama bagi orang-orang Hoakiauw (warga Tiongkok perantauan) tersebut banyak mengumpulkan jemaat warga keturunan. Misa yang dilakukan pun menyesuaikan.

Setiap Minggu sore, gereja tersebut mengadakan misa khusus menggunakan bahasa pengantar Mandarin. ”Untuk misa ini, kami mendatangkan pastor tamu. Pastor pengurus di sini tidak ada yang bisa berbahasa Mandarin,” jelas Pastor Guiseppe Bagnara SX, salah seorang pastor pengurus gereja, lantas tertawa.

Pada momen-momen besar warga Tionghoa, gereja itu kerap ikut memeriahkan. Salah satu yang tak pernah terlewat adalah perayaan tahun baru Imlek. Pengurus gereja mempunyai ritual khusus menyambut tahun baru lunar tersebut. Gereja dihias meriah dengan berbagai hiasan khas. Lampion-lampion digantung di atap gereja, bunga-bunga mei hwa mempercantik sudut-sudut gereja.

Suasana makin meriah dengan ornamen-ornamen kertas yang ditempel di dinding. ”Kami biasa menghias gereja pada H-1 perayaan Imlek,” jelas Sulaiman Tirta, anggota Mudika gereja tersebut.

Ritual bagi-bagi angpau tepat pada tahun baru pun tak terlewat. Pengurus gereja juga berbagi jeruk perlambang kemakmuran kepada seluruh jemaat. ”Tepat di tahun baru, kami juga mengadakan misa Imlek. Misa itu kerap dibanjiri umat. Tempatnya sampai penuh sesak,” ujar pastor Guiseppe.

Menurut dia, ritual perayaan Imlek merupakan wujud penghormatan kepada jemaat yang sebagian besar merupakan warga Tionghoa.

Misa Imlek sekaligus mengajak jemaat berdoa bersama agar pada tahun baru ini semua senantiasa penuh berkah dan diberi kemudahan. ”Kami berada di lingkungan warga Tionghoa. Gereja ini pun berdekatan dengan tiga kelenteng tua. Sudah seharusnya kami menghormati tradisi yang ada,” ungkap Guiseppe.

Perayaan Imlek tersebut, tambah Sulaiman, tak hanya diikuti jemaat. Tak sedikit warga sekitar yang notabene bukan pemeluk Katolik pun ikut berbaur merayakan bersama. Yang dilakukan pengurus gereja tentu makin menambah kemeriahan perayaan Imlek di kawasan Pecinan.

sumber : jawapos.com

February 14, 2010 at 12:00 pm Leave a comment

Membangun Jembatan bagi Toleransi di Australia

Sebuah program komunitas interfaith antarsekolah yang dinamai Building Bridges didirikan untuk membangun jembatan bagi toleransi di Australia

Salah satu tantangan berada di tengah masyarakat yang begitu multikultural adalah risiko menjadi korban stereotype dan saling salah pengertian. Inilah risiko yang juga dihadapi oleh anak-anak yang berada di Australia, dimana walaupun penduduknya multikultural tetapi masih terdapat segregasi tingkat tinggi diantara masyarakatnya. Jika dalam sebuah masyarakat cenderung saling mencurigai, sedikit komunikasi, dan banyak salah pengertian, tentu saja hasil ekstrimnya bisa terjadi bullying antaragama dan antarras, atau rasisme yang berujung pada kekerasan fisik.

Tim McCowan dari WellSpring Retreat Center mulai mengajukan suatu alternatif solusi menghindari hal tersebut dalam sebuah program outreach mereka, 6 tahun yang lalu. Formatnya adalah dengan sebuah program komunitas interfaith antarsekolah yang dinamai Building Bridges.

Program ini tujuannya adalah menyediakan platform untuk siswa-siswi dari sekolah dengan latar belakang agama yang berbeda (sekolah Muslim, Yahudi, dan Kristen-Katolik) saling berkomunikasi, berbagi cerita tentang persamaan dan perbedaan mereka, dan saling bertanya. Sampai sekarang, 24 sekolah (kebanyakan swasta) dari Victoria bagian timur, barat, utara dan selatan, sudah bergabung dalam program ini.

Ketika Mr McCowan mendatangi Kepala Mazenod College 3 tahun yang lalu, Father Pat Maroney untuk presentasi, Father Maroney setuju untuk mengimplementasikan Building Bridges di sekolah tersebut. Father Michael Twigg, yang pada waktu itu menjabat sebagai Religious Education Coordinator, diminta untuk mengordinir beberapa siswa Mazenod yang ingin berpartisipasi.

Father Twigg yang ramah menyambut kami ke dalam ruang meetingnya untuk bercerita lebih dalam tentang Building Bridges.

Program Building Bridges mempunyai dua fokus utama: proses berbagi informasi dan saling bertanya, dan “Creative Day.” Setiap grup Building Bridges terdiri dari sekitar 50 siswa-siswi dari 5 sekolah yang berbeda. Mereka bertemu 5 kali, dengan tempat pertemuan (host school) bergilir diantara sekolah-sekolah yang berada dalam satu grup.

Games, ice breakers dan 25 menit pendidikan interfaith akan mengawali setiap meeting. Host school akan memulai dengan presentasi info-info tentang agama mereka. Kemudian, sesi tanya jawab secara formal akan digelar. “Siapa Yesus?”, “Kenapa kamu harus memakai jilbab?” adalah 2 contoh pertanyaan yang muncul. Menyediakan lingkungan yang aman untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan menyediakan jawaban dan penjelasan yang akurat adalah tujuan dari segmen ini.

Segmen selanjutnya berkisar ke pemahaman yang lebih dalam tentang filosofi “building bridges”. Kenapa kita perlu membangun sebuah jembatan? Bagaimana kita akan membangunnya? Apa saja perbedaan kita? Bagaimana kita memulai sebuah dialog? Sebuah aktivitas dengan fokus utama membangun kepercayaan dan menemukan persamaan sebagai umat manusia. Sesi ini tentang menyadari bahwa semua siswa-siswi adalah semata-mata manusia dan bisa berbagi, dan mempunyai perasaan dan pengalaman yang sama.

Apapun agama mereka, mereka semuanya menyukai menonton film, menyukai musik, penggemar tim football yang sama, sama-sama suka argumen dengan orangtua mereka, merasa sulit untuk belajar, sulit untuk mengeluarkan perasaan mereka, dan bahwa mereka sama-sama menyukai pantai.

Beberapa siswa pria yang bukan Muslim, agak terkejut waktu mengetahui bahwa anak perempuan Muslim boleh pergi ke pantai. Murid-murid Kristen juga terkejut waktu mengetahui bahwa murid-murid Muslims dan Yahudi sering mengalami banyak kesulitan dan tantangan dalam menjadi kelompok minoritas di Australia. Hal-hal simpel seperti inilah yang membuat mereka banyak mengetahui hal baru, meningkatkan kesadaran mereka, dan memperluas pandangan mereka.

Setelah itu, makanan akan dihidangkan dalam sesi group dinner. Vegetarian pizza adalah pilihan yang tepat karena hidangan ini adalah satu pilihan yang bisa diakomodasi oleh semua keyakinan yang terlibat dalam program ini (Muslims harus memakan halal food, dan Jews harus memakan kosher food).

Dalam group dinner inilah, terjadi sharing yang lebih dalam lagi. Di sesi ini, para murid meneruskan percakapan dalam setting yang lebih intim dan personal, dibandingkan dengan setting percakapan sebelumnya. Beberapa murid juga mendeskripsikan momen tersebut sebagai pengalaman spiritual mereka yang paling berkesan.

Sebagai hasil dari berbagi cerita yang lumayan intens ini, murid-murid mengambil kesimpulan bahwa mereka tidak akan langsung percaya dengan apapun yang diajarkan kepada mereka, melainkan cari tahu sendiri dan berkaca pada pengalaman mereka sendiri. Untungnya, keluarga murid-murid yang berpartisipasi di program ini biasanya cukup berpikiran terbuka dan sangat mendukung eksplorasi semacam itu (karena partisipasi di program ini adalah secara sukarela). Dengan lebih banyak percakapan dan berbagi pengalaman tentang agama dan keyakinan, banyak murid-murid yang merasa bahwa mereka justru merasa keyakinan yang lebih kuat tentang agama mereka.

Karena tujuan program ini adalah untuk membuat masyarakat dalam sebuah komunitas merasa aman untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti diatas tanpa sebuah program sebagai fasilitator, Father Twigg mengakui bahwa selama program masih berjalan, artinya masih banyak yang perlu dilakukan.

“Keuntungannya secara konkrit masih kita tunggu, tapi hal yang lebih penting adalah sudah ada kemajuan dalam bentuk program yang berjalan untuk mempromosikan dialog yang aman. Program ini telah mengajarkan nilai yang bagus, bukannya nilai-nilai isolasi diri. Kita berharap bahwa Australia bisa menjadi contoh bagus tentang bagaimana orang-orang yang berbeda latar belakang bisa hidup bersama dan mempunyai tujuan yang sama, dan mempunyai cinta dalam kebersamaan” ujarnya.

Father Twigg juga mengakui masih banyak tantangan dalam program ini. “Sulit untuk membuat orang lupa dari mana asal mereka, atau bagaimana mereka pernah diserang hanya karena akar mereka atau penampilan luar mereka. Menghancurkan stereotipe dan prejudices akan mempunyai banyak hambatan. Hambatan ini bisa berupa pertanyaan yang menantang, belajar untuk mengekspresikan pemahaman atau perasaan secara akurat, bicara dengan orang-orang baru, dan menghadapi kritik dari teman-teman sepermainan yang mempertanyakan perlunya berpartisipasi di program-program seperti ini.” Ditambah lagi, program ini tidak menerima bantuan Pemerintah Australia sama sekali.

Walaupun begitu, salah satu kelebihan acara ini adalah antusiasme yang besar dari para peserta. Karena partisipasi di acara ini secara sukarela, maka banyak dari mereka yang benar-benar tertarik dan rela untuk mendedikasikan banyak waktu, usaha, dan pikiran untuk program ini. Komitmen mereka secara nyata bisa dilihat dalam “Creative Day” mereka.

“Creative Day” adalah ketika masing-masing tim melakukan atau membuat karya seni bersama, misalnya sebuah tarian, sebuah lagu, atau drama. Namun, tim dari region Selatan ingin melakukan sesuatu yang berbeda dan memutuskan untuk membangun pagar untuk lahan-lahan petani-petani yang terpengaruh oleh Black Saturday bushfire.

Kegiatan ini mempunyai tujuan yang jelas, dan akan menciptakan sesuatu yang benar-benar sangat berguna untuk komunitas petani. Ide untuk melakukan aktivitas semacam ini mendapat tanggapan yang sangat positif, bahkan daerah yang lain sudah menyatakan niat untuk membuat kegiatan semacam itu untuk selanjutnya.

Petani yang dibantu tentu saja sangat terharu. Mereka berkata, bahwa jika mereka melakukan sendiri, pekerjaan itu akan memakan waktu 12 minggu. Tidak heran bahwa mereka sangat senang, terkejut, sangat menghargai dan sangat bersyukur atas bantuan ini. Sementara dari segi para murid, mereka berkata walaupun mereka kerja keras dan sangat lelah, tetapi pengalaman tersebut adalah, “the best tired that I have ever had.”

Dalam acara penutup Building Bridges, murid-murid mengakui bahwa reaksi awal mereka bervariasi mulai dari penasaran, merasa riskan, dan tidak tahu apa yang akan terjadi. Seiring berjalannya program, mereka menyadari bahwa semuanya lumayan normal dan ramah. Mereka merasa memiliki momen-momen yang bagus dalam program ini. Tetapi yang paling bisa diingat adalah bahwa mereka belajar dan bisa menerima, mengerti, menghargai, bahkan menyukai orang-orang yang mereka temui lewat program ini. “

Toleransi” menjadi kata yang buruk. Karena, sesuatu yang kita tolerir mengindikasikan sesuatu yang kurang dari apa yang akan kita sukai. Mereka lebih menyukai kata-kata seperti saling menghormati dan saling mengerti. Program ini meninggalkan satu pesan – bahwa ketika muda-mudi bergabung bersama dan melupakan perbedaan mereka sejenak, mereka bisa melakukan hal-hal hebat yang membantah image negatif tentang anak muda yang mungkin ada di mata publik. Building Bridges bertujuan untuk menjadi, dan memang adalah, sebuah cerita positif kaum muda Australia.

Michael Twigg
Father Michael Twigg dari Mazenod College di Wheeler’s Hill adalah Southern Region Coordinator untuk program Building Bridges 2009. Mazenod sendiri adalah sekolah Katholik khusus untuk anak laki-laki yang mempunyai komposisi siswa yang sangat beragam dengan 86 kebudayaan dan agama yang berbeda.

Mazenod memberi pilihan aktivitas yang lebih banyak untuk siswa-siswanya mengekspresikan talenta dan hobi mereka. Peraihan prestasi akademis bukanlah satu-satunya fokus pendidikan di Mazenod. Sekolah ini mempunyai filosofi bahwa bakat masing-masing anak, yang unik dan berbeda, sama-sama penting untuk dialurkan, diarahi dan diberikan kesempatan. Hal yang juga diutamakan Mazenod adalah jika bakat anak tersebut bisa dijadikan sumber pelayanan kepada masyarakat sekitar.

Father Michael Twigg pada tahun 2010 ini menggantikan Father Pat Maroney, yang sudah pensiun, untuk menjadi Kepala Mazenod College. Ternyata, Father Twigg bukan orang yang asing akan Indonesia. Ia pernah dikirim bertugas di Kalimantan Timur selama 6 bulan, setelah sebelumnya hanya belajar Bahasa Indonesia selama 10 hari di Yogyakarta. Father Pat Maroney sendiri juga ternyata sempat tinggal bertahun-tahun di Indonesia.

sumber : edukasi.kompas.com

February 4, 2010 at 6:55 pm Leave a comment

Older Posts Newer Posts


Categories

Top Clicks

  • None

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.